Pemerintah dorong kemunculan 1000 startup pada 2020

  • Butuh sekitar dana US$1 miliar untuk melahirkan 1.000 startup
  • Kemunculan startup bisa menciptakan 5 juta wirausahawan baru
Pemerintah dorong kemunculan 1000 startup pada 2020

 
To read a different version of this story in English, click here.
 
PEMERINTAH optimis Indonesia akan menjadi wadah bagi komunitas digital terbesar di dunia. Agar hal tersebut terwujud, berbagai dukungan dan upaya pun dilakukan.
 
Salah satunya menggagas program 1,000 perusahaan rintisan (startup). Program tersebut lahir sebagai tindak lanjut dari kunjungan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Silicon Valley  pada bulan lalu.
 
Tak semata mencari keuntungan, 1,000 startup yang ditargetkan bisa terwujud pada 2020 ini lebih mengarah pada startup atau aplikasi yang dapat memecahkan permasalahan sosial.
 
Menurut Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo Bambang Heru Tjahjono kepada DNA, startup lokal diperkirakan akan menjadi penyumbang satu persen Produk Domestik Bruto (PDB).
 
Munculnya startup ini diperkirakan  berkontribusi sekitar dua persen dari total populasi Indonesia atau bisa tercipta sekitar 5 juta wirausahawan baru. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan membuat regulasi dan berbagai upaya.
 
Salah satunya dengan menggandeng kalangan investor.
 
Salah satu regulasi yang dimaksud, menurut Rudiantara, yakni dengan memberikan kemudahan bagi startup baru dalam melakukan registrasi.
 
“Kalau satu startup dinilai sudah cukup berhasil, maka pemerintah melalui asosiasi industri akan menyiapkan akreditasi,” katanya.
 
Mengenai konsep registrasi dan akreditasi yang dimaksud, Rudiantara mengaku, proses detilnya masih disiapkan. Regulasi lain yang tengah disiapkan pemerintah yakni mengenai isu investasi bagi startup baru.
 
Pemerintah memastikan akan merevisi Undang-Undang Informasi dan Telematika, salah satunya dengan menghapus poin Daftar Negatif Investasi (DNI) bagi startup.
 
”Kalau untuk pendanaan dilihat dulu segmennya. Ada startup, UKM, dan established seperti Tokopedia dan Go-Jek. Tentu kebutuhan pendanaan dari ketiga segmen tersebut berbeda,” ucap Rudiantara saat ditemui di kantornya, pekan lalu.
 
Menurutnya, startup yang tergolong established memerlukan pendanaan ratusan juta dollar. Maka poin DNI nantinya akan dilonggarkan. Investor asing diperbolehkan untuk menyuntikkan dana hanya untuk perusahaan  yang memiliki valuasi lebih dari US$1 miliar.
 
“Untuk UKM dan startup justru harus kita besarkan dul. Nanti kalau sudah saatnya baru asing boleh masuk,” ucap Rudiantara.
 
Selain urusan pendanaan dan perizinan, Rudiantara menyebut akan mempermudah penerapan perpajakan untuk e-commerce.
 
“Nantinya penerapan pajak akan dibuat flat, seperti yang diberlakukan di capital market. Namun mengenai berapa besaran pajak yang akan diberlakukan, masih harus melakukan pembicaraan dengan Menteri Keuangan,” katanya Rudiantara.
 
Agar rencana melahirkan 1,000 startup di tahun 2020 terwujud,  ia menyebut, pemerintah sedang mencari dana sebesar US$1 miliar. Dana ini bisa berasal dari pemerintah, keterlibatan investor lokal atau pun perusahaan modal ventura.
 
Keterlibatan pemerintah daerah
 

Pemerintah dorong kemunculan 1000 startup pada 2020

 
Sayangnya, bentuk dukungan pemerintah saat ini, belum sampai pada tahap pendanaan. Karena, menurut Rusdiantara (gambar di atas), untuk saat ini pemerintah memang belum memiliki peran sebagai investor dan tidak ada anggaran khusus untuk hal itu.
 
“Di Indonesia, belum ada alokasi dana khusus dari pemerintah (APBN) untuk dukung startup. Kami akan mendorong konglomerat untuk peduli menanamkan modal dan membesarkan mereka (startup),” ucapnya.
 
Jika pemerintah pusat mengaku tidak memiliki anggaran khusus terkait, dukungan lain justru ditunjukkan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.
 
Saat ditemui di Balai Kota, Ahok – begitu ia biasa disapa – mengaku tengah menyiapkan co-working space untuk mendukung pertumbuhan industri kreatif.
 
Bukan hanya menyiapkan ruang kerja yang bisa dipakai oleh pekerja kreatif, Ahok memastikan pemerintah DKI juga akan turut mendanai startup.
 
“Selain bisa dipakai untuk bekerja, nantinya akan ada program inkubasi di lokasi yang sama. Kemungkinan Pemda jadi investor untuk startup, bisa saja. Bisa dimasukkan ke anggaran APBD atau dari Bank DKI,” ucap Ahok.
 
Co-working space yang ditargetkan rampung pada akhir tahun 2015 ini diharapkan bisa menjadi wadah bagi anak muda untuk saling bertukar ide kreatif. Untuk program inkubasi, nantinya akan ada bimbingan dan mentoring dari sosok startup lokal yang sudah sukses.
 
Keterlibatan investor lokal dan operator
 
Pemerintah dorong kemunculan 1000 startup pada 2020Rencana pemerintah melahirkan 1.000 technopreneur pada tahun 2020 juga mendapat sambutan positif dari perusahaan modal ventura, Ideosource.
 
Cofounder dan managing partner Ideosource Andi Boediman (gambar) mengaku terbuka jika pemerintah akan melibatkan perusahaan modal ventura untuk merealisasikan rencana tersebut.
 
“Saya belum lihat ada program yang lebih konkret mengenai kemunculan 1.000 di tahun 2020. Tapi, kita terbuka kalau memang pemerintah mengajak ya tentu kita tertarik,” ungkap Andi saat ditemui DNA di Jakarta, 12 November.
 
Demi menghasilkan 1.000 startup berkualitas, Andi menyebut pemerintah harus memiliki sedikitnya 10 ribu bibit startup. Dari 1.000 startup tersebut, nantinya akan muncul sedikitnya 10 ‘unicorns’ (perusahaan dengan valuasi lebih dari US$1 miliar) dari Indonesia.
 
“Memang sudah skemanya begitu, startup bermain rasio. Misalnya saja ada 100 startup yang akan jadi 10,” pungkas Andi.
 
Kesuksesan startup lokal seperti Go-Jek, Tokopedia, dan Blibli diprediksi akan diikuti kemunculan startup besar lainnya di tahun 2016. Tren dunia startup di tahun 2016 nantinya, akan semakin banyak startup yang tumbuh dan siap menerima suntikan dana dari investor.
 
Selain dukungan berupa investasi, CEO XL Axiata Dian Siswarini menyebut startup sebenarnya juga memerlukan bantuan lain. Salah satunya mengkomersialkan produk mereka.
 
Dian memastikan XL Axiata tidak akan jadi perusahaan modal ventura, tetapi akan memberikan dukungan berupa pengembangan bisnis produk startup melalui kerjasama dengan beberapa perusahaan.
 
“Induk perusahaan Axiata Group sudah membangun venture capital untuk startup, fokus dukungan XL untuk startup lokal dengam mengembangkan gudang aplikasi untuk pelaku industri kreatif dalam memasarkan produk mereka,” kata Dian.
 
Dian menyebut, bentuk dukungan lain yakni berupa pembinaan bagi startup untuk mengembangkan bisnis mereka.
 
Program inkubasi yang ditujukan untuk mengkomersialkan layanan mereka yang nantinya membidik pelanggan XL sebagai pengunduh dan pembeli aplikasi atau layanan tersebut.
                                                                                                                                                     
Artikel Terkait:
 
Logistik dan pembayaran, pendukung e-commerce yang kerap terlupakan
 
iTrain Asia dan Nettium siap kucurkan pendanaan untuk startup Indonesia
 
Jakarta luncurkan Go-Busway dan Qlue Transit
 
Solusi smart living ala Modegi
 
 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019