Solusi smart living ala Modegi

  • Bukan hanya menyasar pengguna di perumahan tetapi juga pebisnis
  • Alat pengontrol listrik Modegi menurunkan tagihan bulanan hingga 20%
Solusi smart living ala Modegi

ADA banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendukung terwujudnya program kota pintar yang tengah digaungkan pemerintah. Salah satunya, seperti yang dilakukan oleh enam orang lulusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Bandung yang tergabung dalam tim Modegi. Mereka berhasil mengembangkan aplikasi berupa produk (hardware) smart-home yang dapat dikontrol melalui WebApp ataupun Android App.
 
Aplikasi yang terpasang di ponsel ini menjadi solusi  karena dapat berinteraksi  dan  mengontrol benda elektronik di rumah. Bukan hanya mengembangkan aplikasi peranti lunak saja, Modegi juga mengembangkan produk peranti keras (hardware) berupa holder lampu, plug untuk jaringan listrik paralel dan ekstensi untuk perangkat elektronik.
 
Dengan aplikasi ini, maka pengguna dengan mudah bisa menyalakan, mematikan atau mengendalikan lampu, perangkat rumah atau perangkat elektronik rumah tangga lainnya dari jarak jauh dengan syarat terhubung jaringan WiFi, berkat ketiga alat yang terpasang dalam perangkat elektronik tersebut.
 
Berawal dari rasa malas untuk mematikan saklar lampu yang berada di luar kamar, founder Modegi Yoshiadi Wicaksono dan Nur Rohman Fajri mendapatkan gagasan untuk mengembangkan alat yang terhubung melalui koneksi Bluetooth pada Maret lalu. Keterbatasan jangkauan Bluetooth kemudian menjadi ide dasar untuk mengembangkan sistem yang sama namun mengandalkan koneksi WiFi.
 
Ide itu kemudian dikembangkan dan memasuki beberapa fase ujicoba. Pada Agustus, akhirnya tim Modegi mulai memasarkan solusi smart living yang dinamakan Haven ke sejumlah konsumen perumahan.
 
Diakui co-founder Modegi, Siti Karwati Bazia kepada Digital News Asia saat dihubungi melalui sambungan telepon, pada 13 September, dari ketiga produk Haven,lampu menjadi yang paling diminati konsumen. “Mungkin karena spesifik, mereka bisa pakai di taman. Terlebih semua jenis lampu standar Indonesia sudah kompatibel,” ucapnya.
 
Perempuan yang akrab disapa Zia ini menyebut, produknya belum dipasarkan secara umum, namun masih  terbatas pada kalangan dekat dan konsumen yang mengirimkan permintaan melalui surel. “Dalam dua bulan kami sudah memiliki 50 pengguna, tapi sampai saat ini semua masih proses perbaikan di sisi hardware dan software di samping validasi user,” ucapnya lagi.

Solusi smart living ala Modegi

Pengguna menjadi tantangan utama
 
Basis pengguna yang belum terlalu besar ternyata menjadi tantangan tersendiri bagi startup asal Bandung ini. Bukan karena memasang target 500 pengguna hingga akhir tahun, tetapi lebih pada sisi edukasi bagi pengguna yang ada.
 
“Biasanya pengguna takut salah, karena ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk pengaturan awal alatnya. Kendala utamanya karena masih sedikit orang yang peduli tentang hal ini, padahal kalau sudah dipakai sangat mempengaruhi tagihan listrik bulanan,” ungkap Zia.
 
Proses pengaturan awal yang dianggap rumit merupakan keluhan utama pengguna. Hal inilah yang masih harus dikembangkan dan diubah menjadi sederhana sehingga kedepannya, pengguna bisa melakukannya sendiri dengan cara yang lebih sederhana.
 
Selain faktor pengaturan yang dianggap rumit, kualitas koneksi  WiFi yang loading lama juga menjadi tantangan bagi pengguna. Ditambah dukungan penggunaan perangkat yang beragam sehingga integrasi sistem pun belum bisa bekerja secara maksimal.
 
“Dari segi aplikasi kami masih terus mengembangkan bagaimana caranya biar bisa default. Mengingat untuk satu merek ponsel dengan merek lain tidak jarang berbeda sehingga kerap membingungkan pengguna,” katanya.
 
Solusi smart living ala ModegiBelajar dari kerumitan yang dialami pengguna, tim Modegi justru mendapatkan masukan untuk mengembangkan solusi lain yakni berupa plug yang bisa dipakai untuk jaringan listrik paralel. Pengguna yang memakai tiga lampu dengan satu saklar kini cukup menggunakan satu plug untuk memasang timer yang bisa diatur melalui ponsel dan web.
 
“Sampai sejauh ini solusi kami memang masih terbatas hanya berfungsi sebagai on/off saja bukan untuk alat yang standby. Karena memang ditujukan untuk alat elektronik yang penggunanya suka lupa mencabut setelah dipakai seperti misalnya charger atau pengering rambut,” pungkas Zia (gambar).
 
Pengguna di beberapa kota seperti Bandung, Jakarta, Bekasi dan Cikarang menyebut ada efek yang dirasakan setelah menggunakan Haven. Tim Modegi mendapatkan laporan pengguna yang menyebut tagihan listrik menurun sampai 20 persen. 
 
Tidak  mengandalkan pendanaan dari investor
 
Dengan modal sebesar Rp 5 juta untuk riset awal, tim Modegi mengaku masih belum berencana mencari pendanaan dari pihak luar. Terlebih saat ini Modegi masih berada di bawah naungan program inkubasi Indigo Telkom. Meski tidak dipungkiri jika beberapa saat lalu sempat ada pembicaraan antara tim Modegi dengan pihak pendanaan tersebut.
 
“Hadiah dari program Indigo incubator pada Juli lalu rasanya masih cukup untuk modal kami. Dana Rp 240 juta yang setengahnya sudah kami dapat di tahap pertama mendorong kami fokus untuk lolos tes demi mendapatkan sisa hadiah tersebut,” tandas Zia.
 
“Sampai sekarang kami belum mengejar ke funding. Pernah sih ngobrol-ngobrol dengan venture capital lokal dan Monk’s Hill waktu ke Singapura, tapi tim saat ini belum menargetkan mendapatkan pendanaan dulu,” katanya.
 
Bagi tim Modegi justru yang terpenting adalah mematok target untuk memperbesar kerjasama dengan B2B (business to business). Salah satu kerjasama yang dibidik yakni layanan Indiehome milik Telkom yang sudah dilengkapi dengan sistem kendali rumah dan bisa diintegrasikan dengan alat besutan Modegi.
 
Setelah menawarkan solusi lighting, sensoring dan sistem keamanan rumah menjadi roadmap yang hendak diwujudkan dalam waktu dua tahun ke depan.
Dalam waktu dekat, Modegi menargetkan aplikasi besutannya sudah tersedia secara resmi di Google Playstore dan Apple App Store. Mengingat hingga saat ini untuk mendapatkan aplikasi pendukung, pengguna harus mengklik tautan yang diberikan bersamaan dengan dilakukannya proses instalasi.
 
Artikel Terkait:
 
12 kota siap jadi kota pintar                             
 
The emergence of smart cities
 
Muslimarket.com tawarkan konsep berbeda                 
 
Dapat suntikan dana dari Lippo Digital Ventures, Telunjuk.com akan ‘Go Internasional’
 
 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019