Pentingkan keberadaan digital, kunci suksesnya Baba Rafi go global

  • Pastikan mereknya menjadi top search di situs pencari, datangkan peminat waralaba
  • Sadar pentingnya situs web dan media sosial sejak awal, kini miliki platform e-commerce
Pentingkan keberadaan digital, kunci suksesnya Baba Rafi go global

 
TIDAK perlu menjadi perusahaan besar untuk mempromosikan bisnisnya ke ranah internasional.
 
Yang terpenting justru bagaimana bisa memanfaatkan keberadaan ranah digital untuk promosi bisnis.  Itulah kunci sukses Hendy Setiono (gambar di atas), CEO PT Baba Rafi Indonesia dalam  mengembangkan usaha waralaba kuliner miliknya, Kebab Turki Baba Rafi.
 
Kebab Turki Baba Rafi (KBTR) adalah usaha waralaba pertama dan andalan PT Baba Rafi Indonesia yang kini telah memiliki 1.200 outlet tidak hanya di Indonesia, tetapi juga Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Tiongkok, Sri Lanka, bahkan Belanda.
 
Bahkan, Hendy mengatakan perusahaannya berambisi untuk menambah jumlah outletnya menjadi 4.000 untuk domestik dan 200 untuk luar negeri dalam lima tahun ke depan.
 
“Sebenarnya kunci pertumbuhan usaha Baba Rafi terletak pada kemampuan untuk memanfaatkan ranah digital dalam mendorong promosi,” ujar Hendy saat diwawancara Digital News Asia akhir Desember 2015.
 
Ia mengatakan sejak transformasi manajemen yang dilakukan perusahaan lima tahun setelah bisnis berjalan, Baba Rafi memastikan bahwa merek dan nama perusahaannya selalu menjadi top search di situs pencari.
 
“Dari dulu perusahaan memahami potensi situs pencari seperi Google  bagi bisnis, segala kata kunci yang diketik orang seperti kebab chain, kebab business, atau kebab franchise, merek Baba Rafi kami pastikan menjadi top search,” lanjutnya.
 
Ia mengaku sudah memanfaatkan search engine optimization (SEO) serta menggunakan layanan iklan di situs- situs web online ketika masih banyak orang yang menganggap hal tersebut tidak begitu penting dalam bisnis.
 
Selain itu, Hendy memastikan bahwa bisnisnya mampu menarik engagement atau keterlibatan konsumen dan calon konsumen melalui situs web dan media sosial.
 
“Meski situs web masih sangat dasar, tapi untuk informasi bisnis dan waralaba semuanya harus diperbarui setiap hari.
 
“Kami juga memastikan bahwa talenta yang kami rekrut memiliki kesadaran akan keberadaan media sosial yang baik, dan aktif menggunakan media sosial untuk promosi,” tambahnya.
 
Meski kesadaran digital usahanya bukanlah yang paling mutakhir, namun ia mengakui bahwa sekecil apapun kesadaran digital dalam bisnis, akan memberikan hasil yang berbeda dibandingkan mereka yang tidak memiliki kesadaran.
 
Baba Rafi lirik e-commerce
 

Pentingkan keberadaan digital, kunci suksesnya Baba Rafi go global

 
Tantangan membangun bisnis menurut Hendy terletak pada bagaimana membawa bisnisnya selalu mengikuti perkembangan zaman dan mampu bersaing dengan merek internasional lainnya.
 
Oleh karenanya meski bukan ahli dalam promosi digital ataupun bisnis berbasis teknologi informasi (TI), Hendy belajar untuk terus mengamati perkembangan bisnis yang saat ini sudah beralih ke era e-commerce.
 
Menyadari trend tersebut, pada 2014 perusahaan langsung bergerak membuat sebuah platform belanja online atau e-commerce Baba Rafi.
 
Selain untuk diversifikasi lini bisnis dari model waralaba ke business to consumer (B2C),  e-commerce juga mampu membuat bisnis Baba Rafi tetap relevan.
 
Melalui toko onlinenya, Baba Rafi menjual berbagai produk makanan beku mulai dari kebab beku, chicken nuggets, hingga burger.
 
“Pergerakan bisnis di ranah digital semakin cepat, perusahaan tidak mau ketinggalan oleh sebab itu kami harus buat e-commerce sendiri yang menjual produk siap saji untuk konsumen,” ujarnya.
 
Selain menjual produk makanan siap saji milik perusahaan, toko online Baba Rafi juga memberi kesempatakan bagi pengusaha makanan lokal lainnya untuk berjualan di toko online-nya.
 
“Jadi selain untuk perusahaan sendiri, kita juga mengajak para pengusaha kecil menengah lain untuk ikut berjualan melalui platform yang kita bangun, saling membantu sesama pengusaha,” tambah Hendy.
 
Meski demikian, perusahaan menyadari bahwa platform e-commerce miliknya bukan yang terbesar di Indonesia maupun dunia, oleh karena itu, perusahaan juga menyalurkan makanan bekunya untuk dijual di platform e-commerce yang “lebih ‘senior’ dan lebih besar skalanya seperti Lazada dan BukaLapak.
 
“Yang penting produk kita ada dimana-mana, merek kita bisa dilihat di berbagai platform digital dan e-commerce yang berbeda,” paparnya.
 
Saat ini lini bisnis utama perusahaan masih pada bisnis waralaba Kebab Turki Baba Rafi.
 
Kisah sukses usaha lokal go global
 

Pentingkan keberadaan digital, kunci suksesnya Baba Rafi go global

Orang bisa menyebut bisnis Baba Rafi ‘hoki’ atau penuh keberuntungan, ada pula yang mengatakan berkat ketekunan dan kerja keras yang akhirnya terbayarkan.
 
Hendy mengaku ia dan istri tidak merencanakan bisnisnya sejak awal untuk menjadi sebesar seperti sekarang.
 
Menurutnya, konsep bisnis Baba Rafi sejak awal tak muluk-muluk, yakni sebuah bisnis yang mudah,  dan bisa dijalankan oleh siapa saja, terutama kalangan menengah ke bawah, dengan modal yang terjangkau.
 
Hendy memulai bisnisnya dengan modal sekitar Rp4 juta (sekitar US$289) yang dipinjam dari adiknya. Saat itu usianya baru 20 tahun. Bersama dengan istrinya,  Nilamsari, mereka nekat membuka bisnis makanan kebab dengan sebuah gerobak.
 
Keuntungan dari gerobak pertamanya ternyata cukup baik, ia pun memutarkan keuntungannya untuk membuka gerobak kedua dan ketiga.

Mendapat respon yang baik dari masyarakat, kepercayaan diri Hendy pun muncul. Saat itu juga ia percaya bahwa kedai kebab miliknya dapat tumbuh dengan skala yang lebih besar dengan model bisnis waralaba (franchise).
 
Pada 2006 setelah gerai keenam dibuka sendiri, Hendy mulai mewaralabakan Kebab Turki Baba Rafi dengan modal mulai dari Rp75juta hingga Rp200 juta pada pewaralaba lokal.
 
Tak disangka, setelah 13 tahun, kini usaha kecil Baba Rafi telah menjelma menjadi sebuah merek kebab global, yang memberi pekerjaan bagi lebih dari 1.500 karyawan, serta omzet senilai miliaran rupiah.
 
Tepat di bulan September 2015, Baba Rafi resmi menginjakkan kaki di benua Eropa dengan membuka outlet pertamanya di kota Alkmaar, Belanda.
 
Setelah Belanda, perusahaan juga ingin membuka 10 cabang outlet lainnya di berbagai kota di Eropa, serta menambah jumlah outlet di Malaysia, kini jumlahnya 33,  Singapura, dan Brunei Darussalam.
 
Investasi pada talenta dan cari mentoring
 
Menyadari bahwa model bisnis waralaba perlu pengelolaan yang profesional dan terpercaya, Hendy saat itu melakukan keputusan yang tak akan ia sesali sepanjang perjalanan bisnisnya: investasi besar pada talenta.
 
“Berinvestasi pada talenta adalah keputusan yang tepat. Selama lima tahun berjalan perusahaan membangun dan mendidik pekerja dari posisi bawah. Tak saya pungkiri bahwa model seperti ini memiliki batasan.
 
“Dengan mendatangkan talenta yang profesional, lulusan pascasarjana dari universitas yang reputasinya baik, bisnis perusahaan benar-benar terdorong dengan cepat,” akunya.
 
Kesadaran akan go digital, serta kebutuhan untuk tranformasi dari bisnis tradisional ke manajemen profesional dinilainya  juga merupakan kunci pertumbuhan bisnis kebabnya.
 
Selain itu, ia juga kerap mencari cara untuk mendapatkan mentoring dari pebisnis profesional lebih berpengalaman darinya.
 
“Perusahaan mulai mendapatkan banyak perhargaan wiraswasta atau entrepreneur, disitu kami sadar harus menumbuhkan skala bisnis dari menengah menjadi besar harus ekspansi, disini lah biasanya pengusaha menemukan jalan buntu,” katanya.
 
Untuk menghindari jalan buntu itulah Hendy memilih untuk mengikuti seleksi pencarian wiraswasta yang dilakukan oleh Endeavor Indonesia.
 
Bersama dengan pengusaha properti Elang Group, Elang Gumilang, ia lolos seleksi internasional Endeavor sebagai high-impact entrepreneurs dari Indonesia pada 2013.
 
Keduanya terpilih karena memiliki dasar bisnis yang bagus dan dianggap potensial untuk dikembangkan.
 
“Sejak menjadi Endeavor Entrepreneur, saya memulai perjalanan menumbuhkan skala bisnis dengan mentoring. Pelajaran praktis yang saya dapatkan saat berdiskusi dengan para profesional sangat membantu untuk menumbuhkan bisnis serta menetapkan strategi bisnis ke depan,” paparnya.
 
Ia menambahkan bahwa selain inovasi, kesadaran digital, serta transformasi bisnis ke manajemen profesional, kesempatan transfer of knowledge dan belajar dengan para pengusaha dan profesional berpengalaman juga memberikan pelajaran berharga bagi pelaku usaha.
 
“Intinya, pelaku usaha perlu untuk terus belajar dan mencari cara untuk mengembangkan bisnisnya, jangan terpaku dan terlalu nyaman dengan skala bisnis yang sudah ada,” pungkasnya.
 
Meski tak instan layaknya usaha rintisan berbasis TI dan digital, Hendy kini bisa berbangga karena merek Baba Rafi menjadi kisah sukses dan membakar semangat para pelaku usaha kecil menengah Indonesia untuk go global.
 
Artikel Terkait:
 
Endeavor Indonesia ajak profesional senior jadi mentor wiraswasta

‘I don't think I even know how to spell entrepreneur’: ServiceRocket CEO
 
Dreams change the world, not technology: Jack Ma
 
 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019