Endeavor Indonesia ajak profesional senior jadi mentor wiraswasta

  • Para mentor profesional justru mendapatkan inspirasi bisnis dan ide segar dari partisipan
  • Sumber daya manusia, pendanaan, dan peraturan menjadi isu yang sering ditanyakan
Endeavor Indonesia ajak profesional senior jadi mentor wiraswasta

 
MEMBANGUN dan merintis sebuah bisnis dari nol bukanlah hal yang mudah bagi para pengusaha atau wiraswasta, namun ternyata, ada hal yang lebih tidak mudah lagi setelahnya: menjalankan dan mempertahankan bisnis.
 
Hal ini dirasakan benar oleh co-founder situs e-commerce furniture Indonesia, Fabelio, Christian Sutardi pada Digital News Asia (DNA). Fabelio yang berdiri sejak Juni 2015 lalu, harus merasakan jatuh bangun, sebelum akhirnya mendapatkan seed funding sebesar US$500.000 (sekitar Rp6,8 miliar) dari investor yang dipimpin oleh 500 Startups.
 
Pekerjaan rumah para pendiri Fabelio yang terdiri dari  Krishnan Menon, Marshall Utoyo, Srinivas Sista, dan Christian tak henti sampai di situ saja.  Setelah enam bulan memperoleh dana investasi awal, pekerjaan terberat mereka justru bertahan. Tidak cukup hanya bertahan, lebih dari pada itu, bisnis  Fabelio harus tumbuh dan berkembang.
 
“Potensinya besar, produk dan solusi Fabelio juga menjanjikan. Sekarang tugas tim adalah mencari langkah serta cara yang terbaik untuk menjalankan dan menumbuhkan bisnis ke depan,” papar Christian
 
Ia mengakui tantangan terbesar yang ditemuinya selama proses merintis dan menjalankan bisnis Fabelio adalah mencari sumber daya manusia (SDM) yang tepat, dan mempertahankan SDM tersebut di perusahaannya.
 
“Tidak dipungkiri, tim dan orang-orang di balik Fabelio akan menentukan keberlangsungan dan kesuksesan bisnis perusahaan, mencarinya saja sudah sulit, lebih sulit lagi mempertahankan talenta yang berkualitas,” tambahnya kepada DNA, di sela-sela  acara forum Scale Up Clinic Endeavor Indonesia di Jakarta pada 19 November.
 
Selain masalah SDM, dia dan rekan-rekannya juga harus mampu untuk melihat berbagai kejutan, perubahan, dan tantangan yang akan dihadapi Fabelio ke depan, dengan langkah preventif yang sudah dirumuskan jauh-jauh hari.
 
Profesional dan wiraswasta senior sebagai mentor
 
Akan halnya, forum Scale Up Clinic merupakan wadah untuk mempertemukan berbagai profesional dan wiraswasta senior yang bertindak sebagai mentor dengan wiraswasta muda yang baru saja merintis bisnisnya atau partisipan.
 
Untuk ketiga kalinya, forum ini diadakan di Jakarta oleh Endeavor Indonesia. Dalam Scale Up Clinic, kali ini menghadirkan 24 mentor dari berbagai bidang termasuk legal, hukum, pemasaran, pembangunan bisnis, bahkan investor, untuk memberikan ‘nasihat’ pada 29 merek usaha potensial di Indonesia.
 
Bagi para mentor yang notabene adalah para pebisnis dan profesional senior, ajang ini memberikan manfaat tersendiri, serta membuka peluang kerjasama.
 
“Jangan dipikir menjadi mentor berarti membuang waktu dengan percuma, justru mentor mendapatkan manfaat, yang menurut saya lebih besar daripada nasihat dan konsultasi yang saya berikan,” ujar President Director PT Coca-Cola Indonesia, Martin Gil (gambar di bawah).
 

Endeavor Indonesia ajak profesional senior jadi mentor wiraswasta

 
Martin sendiri ditunjuk sebagai mentor Endeavor Indonesia selama 3 tahun. Dia  mengaku bahwa ide dan energi yang didapatkan dari sesi konsultasi dengan wiraswasta muda memberikan inspirasi dan pembelajaran sendiri baginya. “Dunia sudah berubah, tataran bisnis telah berubah dengan adanya gebrakan inovasi dan teknologi,” kata dia.
 
Mendengar ide, solusi dan inovasi yang ditawarkan para wiraswasta muda ini, lanjutnya,  memberikan inspirasi bagi dirinya dalam memimpin Coca-Cola di Indonesia.
 
Martin menyatakan bahwa keterlibatannya menjadi mentor dan bertemu dengan banyak wiraswasta muda telah menghasilkan kerjasama antara Coca Cola Indonesia dengan pelaku wiraswasta.
 
“Solusi yang ditawarkan oleh wiraswasta muda ini ada yang cocok dengan masalah yang sedang dihadapi Coca Cola Indonesia, jadi pintu kerjasama kita buka, dan saat ini perusahaan menggunakan solusi wiraswasta muda tersebut,” ujarnya tanpa menyebut detil kerjasama lebih lanjut.
 
Pencarian talenta tantangan wiraswasta
 
Bagi Martin yang memiliki latar belakang kuat dalam pembangunan bisnis dan pemasaran, tantangan wiraswasta muda Indonesia juga terletak pada aspek distribusi produk. Dengan struktur negara kepulauan, memastikan produk sampai dan menjangkau suatu daerah dengan tepat waktu dan biaya yang efisien adalah tantangan tersendiri.
 
“Selain itu, membangun karakteristik merek usaha pun selalu menjadi pertanyaan menarik, bagaimana membangun merek yang mampu menarik perhatian masyarakat lokal maupun internasional, karena semua wiraswasta rata-rata memiliki mimpi go regional,” papar Martin.
 
Tantangan selanjutnya adalah masih belum adanya dukungan regulasi dari pemerintah terhadap ekosistem wiraswasta Indonesia.  “Di Indonesia wiraswasta muda masih terhalang terutama oleh masalah peraturan, banyak yang bertanya bagaimana cara mendapatkan bermacam-macam jenis perijinan, tanpa ada pedoman jelas dan resmi mengenai hal tersebut,” tambah Martin.
 
Bukan sekedar uang, tapi bisnis berkelanjutan
 
Banyaknya wiraswasta muda yang bermunculan dengan ide bisnis serta usaha rintisan yang menjanjikan, menjadi pilihan baru dalam dunia usaha Indonesia. Kemajuan teknologi dan kemudahan akses digital pun ikut membantu memudahkan para wiraswasta memulai ide bisnisnya tanpa membutuhkan modal yang besar.
 
Pertanyaan besarnya adalah mampukah para wiraswasta muda dengan ide segar ini mempertahankan bisnisnya hingga 10, 20 bahkan 50 tahun ke depan layaknya perusahaan-perusahaan besar sebelumnya?
 
Jawabannya, menurut Managing Director Endeavor Indonesia Sati Rasuanto, mayoritas tidak.
 
Endeavor Indonesia ajak profesional senior jadi mentor wiraswasta“Seringnya, usaha rintisan gagal mempertahankan bisnisnya karena alasan klasik, tidak seimbangnya pendapatan dan pengeluaran, tidak bisa mengatur sumber daya manusia,” papar Sati (gambar).
 
Para wiraswasta muda belum memiliki cukup pengalaman bisnis dan belum merasakan dinamika perubahan struktur ekonomi baik secara makro maupun mikro.
 
“Pengalaman ini biasanya sudah dirasakan oleh para pebisnis, maupun profesional yang sudah menjadi praktisi selama bertahun-tahun,” kata dia.
 
“Tugas Endeavor Indonesia kini selain mencari talenta wiraswasta yang berkualitas di Indonesia, namun juga membantu para wiraswasta untuk mengembangkan bisnisnya dan menghindari kegagalan,” tambahnya.
 
Sati mengakui bahwa Endeavor Indonesia tidak memfokuskan pencarian dan bimbingan hanya pada wiraswasta di sektor teknologi saja. Karena
teknologi sudah menjadi sektor dasar yang harus dikuasai oleh setiap wiraswasta yang ingin membangun bisnis di era digital.
 
“Kami fokus justru pada usaha yang memiliki potensi pasar besar, namun belum bisa mengoptimalkan potensi tersebut. Bisa industri makanan dan minuman, kecantikan, jasa dan layanan, termasuk e-commerce maupun teknologi,” katanya.
 
Tujuan Endeavor Indonesia adalah untuk membuat setiap wiraswasta dan usaha rintisan di Indonesia berkelanjutan, bukan hanya berkiblat pada keuntungan semata.
 
“Hal terpenting dalam membangun bisnis adalah prosesnya. Gagal atau tidak, keuntungan besar atau tidak itu hasil akhir, yang kita inginkan adalah bisnis dan usaha yang berkelanjutan, yang inovasinya memberi solusi, yang mampu bertahan jika krisis menghadang, yang mampu berkontribusi pada ekonomi negara,” ujarnya.
 
Artikel Terkait:
 
iTrain Asia dan Nettium siap kucurkan pendanaan untuk startup Indonesia
 
Entrepreneur coaching not just for young startups: Proficeo
 
Week in Review: A game changer? Get an advisor first!
 
Incubate, accelerate or go solo
 
 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019