Ujicoba Project Loon, Google anak tirikan penyedia jasa Internet?

  • 350 penyelenggara jasa internet berharap dilibatkan dalam uji coba Project Loon
  • Penyedia jasa Internet dan operator yang ingin terlibat harus mempelajari skema bisnis
Ujicoba Project Loon, Google anak tirikan penyedia jasa Internet? 
To read a slightly different version of this story in English, click here.
 
PENANDATANGANAN kerjasama antara tiga operator besar di Indonesia – Indosat, Telkomsel dan XL Axiata – untuk mengujicoba balon udara milik Google pada 2016 nanti, mulai memicu respons dari berbagai pihak.
 
Tak kurang dari 350 penyelenggara jasa Internet yang tergabung dalam Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merasa ‘dianaktirikan’ dengan kesepakatan kerjasama tersebut.
 
Sebagai penyelenggara jasa Internet dengan jumlah pelanggan yang tak kalah besar, anggota APJII berharap kerjasama ini akan diperluas, bukan hanya oleh tiga operator besar tetapi juga ke seluruh penyelenggara jasa internet (PJI).
 
Dalam keterangan resmi yang diterima DNA, 2 November 2015 asosiasi yang berdiri sejak 19 tahun silam ini mengakui, jika infrastruktur terutama last mile menjadi kendala mayoritas para PJI. Data yang dirilis APJII mendapati 70 persen penyebaran trafik dikuasai oleh tiga operator selular dan 30 persen trafik diperebutkan oleh lebih dari 350 operator.
 
“Kami dari APJII memang mendukung untuk Project Loon, tapi kami berharap setelah tahap uji coba semua penyedia jasa internet bisa menikmati, tidak terbatas pada tiga operator saja,” kata ketua umum APJII Jamalul Izza saat dihubungi melalui telepon.
 
Menurutnya, sebelum ada kesepakatan kerjasama antara ketiga operator dengan Google, pihak APJII sempat melakukan pembicaraan terkait Project Loon dengan perusahaan teknologi raksasa tersebut. Sayangnya, tidak ada tindak lanjut dari Google.
 
Pada Juli 2015 lalu, Jamal menyebut APJII secara langsung menanyakan ke Google tentang Project Loon ini untuk kepentingan anggota, namun  dijawab bahwa project itu tidak tersedia.
 
“Kalau untuk penandatanganan APJII memang tidak dilibatkan. Tetapi, kami  menyayangkan saat kami menanyakan kemungkinan bisa bekerjasama dengan Loon tidak ada feedback dari Google,” akunya.
 
Jamal mengaku kecewa dengan sikap Google, namun bukan berarti asosiasi tidak mendukung kerjasama yang sudah terjalin dengan tiga operator besar tersebut. Mengingat dalam menyelenggarakan jasa akses Internet, operator selular menggunakan ijin penyelenggaraan jasa Internet yang mereka miliki dan termasuk bagian dari asosiasi.
 
Meski tidak dilibatkan saat proses kerjasama, kedepannya Jamal berharap semua anggota bisa terlibat saat pemanfaataan Project Loon.
 
Ujicoba Project Loon, Google anak tirikan penyedia jasa Internet?Sebagai tindak lanjut, APJII siap berkomunikasi aktif dengan pihak terkait seperti Kemenkopolhukam, Kominfo dan Google untuk mengusahakan equal access terhadap media teknologi baru tersebut bagi seluruh anggotanya.
 
“Banyak anggota APJII yang hanya beroperasi di kota besar, kalau kami bisa terlibat dalam memanfaatkan Project Loon tentu bisa menjadi langkah awal untuk menjangkau orang-orang yang berada di pelosok,” tambahnya (gambar).
 
Lebih lanjut Jamal menyebut pihaknya sudah berdiskusi dengan pemerintah dan sudah ada kesepakatan untuk kedepannya melibatkan APJII dalam Project Loon.
 
“Pastinya kami mau lihat hasil uji coba dulu, kalau bagus dan bisa melihat kualitasnya seperti apa baru dibicarakan kemungkinan kedepan bagi anggota APJII,” ucapnya.
 
Project Loon ‘mengkerdilkan’ operator kecil?
 
Bukan hanya 350 anggota APJII yang mengaku tertarik memanfaatkan teknologi besutan Google, satu-satunya operator CDMA (Code Division Multiple Access) Smartfren juga mengaku tertarik dengan konsep tersebut.
 
Meski tidak dilibatkan dalam kerjasama tersebut, namun operator yang kini fokus dengan teknologi 4G LTE ini mengaku tertarik dengan teknologi yang ditawarkan Project Loon.
 
Menurut Division Head Smartphone & Data Device Smartfren, Sukoco Purwokardjono kepada DNA, hingga kini pihaknya belum menerima informasi dengan jelas skema bisnis yang dijalankan Google untuk Project Loon. Meski demikian, Smartfren akan membuka diri untuk bekerjasama dengan Google.

"Karena memang informasinya terbatas, saya belum bisa berkomentar banyak. Saya juga baru baca di media-media, belum mendapatkan penjelasan (dari Google)," ujar Sukoco saat ditemui DNA di Jakarta.

Ketika disinggung mengenai efisien yang akan diberikan oleh 'BTS udara' itu, anak perusahaan grup Sinar Mas ini mengakui untuk memperluas layanan Internet termasuk 4G LTE memang membutuhkan infrastruktur yang memadai.

Ditanya soal kemungkian kerjasama, Sukoco mengakui bahwa kemungkinan tersebut tetap akan ada. “Namun, sampai saat ini, kita belum tahu (skema Project Loon),” elaknya.
 
Tidak dapat dipungkiri jika teknologi yang ditawarkan balon udara Google mampu memikat banyak perusahaan. Terkait kerjasama ini, pengamat telekomunikasi Nonot Harsono memastikan semua pihak, terutama penyedia jasa internet harus terlebih dahulu mengetahui peran masing-masing.
 
“Harus dipastikan dulu kalau anggota APJII mau bergabung nanti di segmen mana PJI akan berperan, apakah mereka yang akan mencarikan pelanggan atau di manakah peranannya. Sementara Google melalui Project Loon menjemput traffic yang menghubungkan ke server Google melalui jaringan milik operator,” ucapnya.
 
Meski saat ini akan memasuki tahap uji coba, Nonot menyebut untuk tahap komersial bisa dilihat sejauh mana skema kerjasama nantinya. Terlebih dalam hal ini Google mengudara dengan memanfaatkan spektrum frekuensi 900MHz milik operator.
 
Ujicoba Project Loon, Google anak tirikan penyedia jasa Internet?“Harus diperhatikan legalitas penggunaan spectrum. Jangan sampai kasus IM2 yang menggunakan BTS Indosat saat itu terulang. Dari pihak regulator bisa saja melihatnya tidak ada masalah, tapi pihak-pihak tertentu bisa menjadikannya itu masalah. Jadi harus dipelajari skema bisnis dan cara kerjanya,” aku Nonot (gambar).
 
Google sebagai pihak yang membawa akses poin ke Indonesia harus ditetapkan peranannya. Operator sebagai vendor alat atau sebagai pemilik akses poin, sementara Loon bertindak sebagai pemilik akses yang bekerja melalui frekuensi operator.
 
Dalam kacamata regulasi memang tidak diijinkan pengalihan penggunaan frekuensi ke pihak lain, untuk itu perlu dipastikan bentuk skema kerjasama baik dalam tahap uji coba maupun saat memasuki tahap komersil nantinya.
 
“Pertanyaan ini harusnya dijawab di level legal compliance, kalau sudah terpenuhi baru kemudian masing-masing pihak bisa berperan dalam pemanfaatan Project Loon.
 
“Misalnya dengan mengingat nature bisnis PJI bisa sebagai pencari pelanggan, tapi ini jadi masalah lagi kalau dareahnya non operasional. Nanti siapa yang akan membiayai operasional di sana, apakah mau kalau jadi proyek sosial yang tanpa pemasukan,” tandas Nonot.
 
Artikel Terkait:
 
Project Loon Google sambangi Indonesia
 
Joko Widodo ajak technopreneur Indonesia ke Silicon Valley
 
Batal ke Silicon Valley, Jokowi-Obama sepakat tingkatkan kerjasama teknologi informasi
 
Telco Deep Dive: Operators just scratching the surface with 4G
 
 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 
 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019