TripVisto raih pendanaan Rp13,5 miliar, siap mengemas 10.000 paket wisata

  • Harapkan pertumbuhan omzet bulanan meningkat hingga 20 kali lipat
  • Investasi untuk jajaki kemitraan strategis dengan Tuniu Corporation
TripVisto raih pendanaan Rp13,5 miliar, siap mengemas 10.000 paket wisata

 
POTENSI pariwisata yang cukup besar di Indonesia menarik minat sejumlah pelaku bisnis untuk menerjuni bisnis ini. Salah satunya adalah agen perjalanan wisata TripVisto.com yang berdiri sejak 2014. TripVisto.com sangat optimis terhadap prospek bisnis pariwisata.
 
Apalagi Kementerian Pariwisata sudah menargetkan jumlah perjalanan wisata domestik yang dilakukan wisatawan nusantara mencapai 254 juta pada 2015.
 
Tentu saja, angka tersebut menjadi ladang subur bisnis perjalanan wisata, terutama yang berbasis daring. Jangan heran, jika agen perjalanan wisata yang berbasis daring diprediksi akan menuai sukses dalam waktu dekat.
 
Agar bisa bisa bersaing dan mengembangkan bisnisnya, TripVisto.com mendapat suntikan dana Seri A sebesar Rp13,6 miliar atau sekitar US$ 1 juta dari investor yang dipimpin oleh Gobi Partners.
 
“Model bisnis TripVisto.com yang dianggap berkelanjutan, serta belum adanya pemain di ranah paket perjalanan wisata daring, baik di Indonesia maupun Asia Tenggara, membuat perusahaan kami dilirik Gobi Partners untuk berinvestasi,” kata CEO PT Tripvisto Nusantara Jaya Bernardus Sumartok pada Digital News Asia (DNA) melalui surat elektronik pada 18 November 2015.
 
Asal tahu saja, sebelum mendapat pendanaan dari Gobi Partners, Tripvisto mendapatkan pendanaan tahap awal dari East Venture pada Agustus 2014. Meski angkanya tidak diumumkan, namun pendanaan awal tersebut membantu TripVisto memperkokoh pondasinya.
 
Kini, setelah satu tahun berdiri, TripVisto berahsil meraup sukses dengan omzet bulanannya yang mencapai 10 kali lipat. Dan, dengan tambahan pendanaan Rp13,6 miliar yang baru dikantonginya, perusahaan pun menargetkan pertumbuhan omzet yang lebih agresif lagi.
 
“Pasca pendanaan kami menargetkan pertumbuhan bisnis yang semakin baik. Perusahaan akan bekerja keras untuk mencapai target pertumbuhan omzet bulanan di tahun 2016, setidaknya hingga 20 kali lipat dari apa yang sudah dicapai tahun 2015 ini,” papar Sumartok.
 
Target agresif ini akan didorong oleh penggunaan dana investasi pada perluasan inventori paket perjalanan wisata yang ditawarkan.
 
Saat ini TripVisto menawarkan 1.000 paket perjalanan wisata dari 50 negara dan 157 kota seluruh dunia, di mana 60 persen dari total paket perjalanan yang ditawarkan adalah destinasi internasional.
 
“Kami akan mengembangkan 1.000 paket yang ada sekarang, menjadi 10.000 paket perjalanan wisata yang dapat dipilih oleh wisatawan Indonesia,” ujar Sumartok.
 
Pengembangan inventori TripVisto ditargetkan untuk melengkapi destinasi domestik dari Sabang hingga Merauke. Selain itu,  perusahaan juga akan fokus pada pengembangan destinasi internasional, terutama di wilayah Asia yang menjadi destinasi tujuan terpopuler saat ini.
 
Jika mampu menawarkan 10.000 paket perjalanan, Sumartok mengklaim, TripVisto akan menjadi marketplace paket perjalanan wisata terlengkap di Asia Tenggara.
 
Potensi kemitraan dengan Tuniu
 
Bagi TripVisto, mendapatkan investasi dari Gobi Partners menambah nilai wawasan, jaringan dan peluang kerjasama. Apalagi sebelumnya, Tuniu Corporation, perusahaan perjalanan wisata daring Tiongkok juga telah mendapatkan suntikan dana Gobi Partners.
 
“Sebagai investor pertama pada Tuniu Corporation, Gobi Partners mampu memberikan wawasan dan transfer pengetahuan yang serupa pada TripVisto agar bisa mendulang sukses layaknya Tuniu,” tambah Sumartok.
 
Tuniu Corporation sukses menjalankan bisnis perjalanan wisata daring di Tiongkok dan berhasil mengumpulkan dana sebesar US$72 juta (sekitar Rp994 miliar) saat melakukan penawaran saham perdana di Nasdaq, pada Mei 2014 lalu.
 
Gobi Partners melihat kualitas dan potensi bisnis yang sama pada TripVisto dan berkomitmen untuk membagi pengetahuan dari Tuniu untuk pengembangan bisnis TripVisto.
 
“Dengan memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi dan demografis Indonesia, kami [Gobi Partners] percaya TripVisto akan mampu memberikan pengalaman tur yang berkualitas di Indonesia,” papar Managing Partner Gobi Partners, Thomas G. Tsao dalam pernyataan resmi yang diterima DNA.
 
Lebih dari sekadar berbagi pengetahuan, kehadiran Gobi Partners, mampu membuka pintu bagi kerjasama strategis antara TripVisto dan Tuniu Corporation, berupa promosi pariwisata kedua negara di pasar domestik masing-masing.
 
“Potensi untuk mendatangkan wisatawan Tiongkok ke Indonesia sangat mungkin dilakukan dengan kemitraan TripVisto dan Tuniu ke depan. Kerjasama ini masih dalam tahap penjajakan, diharapkan kami bisa mengumumkan jalinan kemitraan ini di tahun 2016,” ujar Sumartok.
 
Talenta teknis dan pemasaran tertarget

TripVisto raih pendanaan Rp13,5 miliar, siap mengemas 10.000 paket wisata

 
Dana kucuran untuk TripVisto, tambah Sumartok, juga akan digunakan untuk merekrut anggota tim baru khususnya di bidang teknologi, produk, dan pemasaran.
 
“Sebagai perusahaan teknologi, talenta teknis yang baik merupakan komponen penting untuk kemajuan bisnis,” kata dia.
 
Saat ini, TripVisto sedang dalam proses perekrutan sumber daya manusia terbaik di bidang pengembangan piranti lunak, dan mencari posisi eksekutif yang berpengalaman di industri perjalanan wisata.
 
Salah satu bentuk penguatan bisnis juga dilakukan melalui kampanye dan promosi pemasaran yang lebih terarah.
 
Bagi Sumartok, kekuatan pemasaran TripVisto adalah content marketing yang menginspirasi wisatawan agar mau berkunjung ke suatu tempat dengan menjual cerita dibalik satu destinasi.
 
Konsep content marketing akan diperluas dan menjadi fokus TripVisto ke depan, ditambah dengan pemasaran melalui iklan yang selama ini belum dilakukan perusahaan.
 
Tantangan dorong ekspansi
 
Alih-alih menahan ekspansi saat kondisi ekonomi sedang tidak kondusif, TripVisto.com justru gencar mencari cara untuk mengembangkan bisnis marketplace paket perjalanan wisatanya.
 
“Kondisi dolar Amerika Serikat (AS) yang mahal justru menambah minat untuk tujuan wisata domestik,” jelas Sumartok.
 
“Meski ada pengurangan anggaran untuk liburan, kami coba siasati dengan memberikan harga terjangkau, sehingga meski kondisi ekonomi ketat, berlibur tetap jadi pilihan,” tambahnya,  
 
Dalam pandangan Sumartok, liburan bukan sekedar bisnis yang potensial, tapi memiliki efek ganda, termasuk menumbuhkan perekonomian negara.
 
“Hampir sebagian besar mitra lokal kami adalah pengusaha perjalanan wisata skala kecil, TripVisto pun hadir untuk membantu mereka menumbuhkan bisnisnya. Harapan kami bisa membantu mengembangkan ekonomi lokal.”
 
Ekspansi secara regional juga sudah masuk dalam radar perusahaan, namun saat ini Sumartok mengakui, perusahaan masih akan fokus mengoptimalkan pasar Indonesia sebaik mungkin, sebelum melirik negara tetangga untuk ekspansi.
 
Sumartok menambahkan, secara kuantitas, pasar Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara, maka tugas utama adalah untuk memenangkan pasar Indonesia.
 
“Ke depan go regional artinya mendatangkan wisatawan mancanegara ke Indonesia dan tujuan Asia lainnya, kami menunggu momentum bebas visa Asia Tenggara lebih agresif digalakkan pemerintah, agar bisa mendorong pasar dari kebijakan ini,” pungkas Sumartok.
 
Artikel Terkait:

‘Digital window’ closing fast for hotels: FastBooking chief
 
Skyscanner to ride on Asia’s travel growth, digital trends
 
Huge shift to online bookings in APAC travel industry
 
Indonesian online travel agency Traveloka to use CyberSource payment solutions
 

Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019