Halo Diana, asisten pribadi digital untuk segala kebutuhan

  • Selain SMS dan aplikasi Android akan ada iOS di bulan Januari
  • Ada 300-400 inquiry per hari, butuh waktu 5 menit per inquiry
Halo Diana, asisten pribadi digital untuk segala kebutuhan

 
LAYANAN asisten pribadi digital kini mulai bermunculan seiring dengan pertumbuhan  perusahaan rintisan (startup) di tanah air. Salah satunya, adalah  Halo Diana yang hadir dengan mengusung konsep chatting.
 
Diana sendiri merupakan akronim dari Digital Assistant and Automation yang menawarkan jasa asisten digital virtual untuk memenuhi berbagai kebutuhan pengguna. Layaknya asisten pribadi sungguhan, Diana juga bisa mengatur dan membantu jadwal yang terkait dengan pekerjaan.
 
“Diana bisa membantu pengguna untuk melakukan banyak hal, mulai dari memesan tiket pesawat, memesan makanan, memesan tempat di restoran, memesan paket liburan, tiket (pertunjukan bioskop, kereta, konser musik, dan event), mencarikan kado unik untuk pasangan hingga berbelanja kebutuhan bulanan serta mengecek dan pesan barang,” kata CEO dan founder PT Sribu Digital Kreatif, penyedia Halo Diana, Ryan Gondokusumo (gambar di atas) saat dihubungi DNA pekan lalu.
 
Pada awal diluncurkan, September lalu, Diana hadir dengan  menggunakan  format pesan singkat (SMS) untuk berinteraksi dengan penggunanya. Konsep serupa juga dipakai oleh YesBoss.
 
Media SMS disebut oleh Ryan, merupakan jalan yang mudah untuk mengembangkan teknologi baru. Cara kerjanya sederhana, yakni pengguna cukup mengajukan perintah atau meminta apapun ke Diana, mulai dari memesan makanan, membeli tiket hingga memesan Uber jika pengguna tidak memiliki kartu kredit.
 
Meski demikian, Halo Diana belum dapat berdiri sendiri, tetapi sangat bergantung pada vendor atau pihak ketiga yang menyediakan layanan seperti layanan pemesanan tiket pesawat dan hotel Traveloka, Go-Jek, dan Uber.
 
Trik menghadapi rival sejenis
 
Halo Diana, asisten pribadi digital untuk segala kebutuhanSadar dengan persaingan yang tak bisa dihindari, Halo Diana tampil diferensiasi dengan memperluas segmen layanannya. Kali ini Halo Diana  bukan hanya melayani permintaan pengguna melalui pesan singkat, tetapi juga sudah tersedia dalam versi mobile untuk perangkat aplikasi Android.
 
Berbeda dengan versi SMS, aplikasi Halo Diana dilengkapi dengan fasilitas yang memungkinkan pengguna mengecek pemesanan melalui status pemesanan seperti requested, on process, on delivery, completed atau cancelled.
 
Selain itu pengguna juga bisa melihat history percakapan dan pemesanan yang pernah dilakukan.
 
“Orang Indonesia sangat suka layanan chatting, itulah alasan utama kenapa aplikasi Halo Diana juga didesain layaknya sedang chatting dengan teman,” ucap Ryan.
 
Ryan menargetkan kemunculan aplikasi Halo Diana bisa menambah 50.000 pengguna baru. Dalam sehari, layanan asisten virtual digital tersebut mengklaim sudah memiliki 6000 pengguna aktif. Hingga akhir tahun 2015 ditargetkan ada 10.000 pengguna aktif.
 
Agar semakin banyak pengguna, Halo Diana juga akan tersedia untuk perangkat iOS pada Januari 2016 nanti. Dengan ketersediaan Halo Diana di perangkat iOS, Ryan yang merupakan lulusan Purdue University ini membidik target 200.000 pengguna.
 
“Sejauh ini mayoritas pengguna Halo Diana masih dari kota besar, 75 persen diantaranya berasal dari Jakarta. Sementara sisanya dari kota besar lainnya yakni Bandung, Surabaya, dan Jogja,” ucapnya.
 
Selain merilis aplikasi untuk Android dan iOS, Ryan juga memiliki strategi lain dalam menghadapi rivalnya. Salah satunya dengan banyak melakukan aktivitas di ranah sosial media untuk menambah pengguna baru dan mengajak pengguna lama untuk aktif kembali menggunakan Halo Diana.
 
Dari 1000 pengunduh aplikasi Halo Diana, 30 persen diketahui belum pernah menggunakan layanan tersebut. Melalui beragam aktivitas sosial, Ryan berharap memicu ketertarikan pengunduh untuk mulai memberikan perintah kepada Diana.
 
“Kami lebih  memposisikan sebagai platform yang memberikan rekomendasi untuk pengguna. Jadi agen Diana berperan layaknya seorang konsultan yang dibekali database yang lengkap,” ungkapnya lagi.
 
Menurut Ryan, salah satu pembeda utama Diana denganYesBoss, adalah bila YesBoss  lebih menitikberatkan pada kecepatan, maka Halo Diana lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pengguna.
 
Informasi mengenai rekomendasi makanan, tempat makan, dan hadiah menjadi yang paling populer. Selain itu pemesanan tiket nonton, pesawat dan mencari barang-barang unik juga paling banyak diminati pengguna.
 
Meskipun Halo Diana merupakan asisten pribadi virtual, namun pengoperasian Diana bukan sekedar menggunakan mesin penjawab. Tim yang terdiri dari 35 orang, delapan diantaranya disebut oleh Ryan memiliki tanggung jawab sebagai agen untuk memenuhi permintaan yang masuk.
 
“Dalam sehari rata-rata ada 300 sampai 400 inquiry, untuk satu inquiry membutuhkan waktu maksimal 5 menit. Biasanya jam-jam sibuk saat orang pergi dan pulang kerja menjadi yang paling banyak permintaan masuk, totalnya di jam itu bisa mencapai 100,” ucapnya.
 
Monetisasi bisnis kedepan
 

Halo Diana, asisten pribadi digital untuk segala kebutuhan 

Sebelum merilis Halo Diana, Ryan yang sudah bergelut dengan dunia startup sejak tahun 2011 lebih dahulu melunurkan Sribu dan SribuLancer.
 
Sribu merupakan platform yang menghubungkan siapa saja yang membutuhkan jasa desain dengan komunitas desainer. Sementara SribuLancer merupakan situs yang menghubungkan klien dengan freelancer.
 
Halo Diana awalnya merupakan kategori khusus yang terdapat dalam SribuLancer untuk melayani permintaan seperti entry data, pencarian informasi, dan reservasi tempat. Di luar ekspektasi, kategori ini mendapat sambutan baik dari klien dan ketersediaan Diana dalam platform martketplace SribuLancer dianggap kurang sejalan.
 
Keputusan untuk memisahkan Diana dengan SribuLancer bukan hanya menjadikan keduanya fokus dengan brand positioning masing-masing. Tetapi juga, layanan berbasis SMS dan aplikasi yang dibuat terpisah ini, membuat Ryan lebih fokus dalam memonetisasi bisnis.
 
Meski pengguna Halo Diana tidak dikenai biaya, namun Ryan mengaku memiliki rencana monetisasi yang lain. Hal tersebut lebih mengarah pada vendor yang bekerjasama dengan Diana.
 
“Sejauh ini sudah ada kerjasama dengan 15 vendor, sistemnya sharing fee untuk setiap transaksi yang terjadi melalui Diana. Besarannya bervariasi, mulai dari 5-20 persen tergantung kesepakatan,” pungkasnya.
 
Untuk memenuhi melonjaknya inquiry di jam-jam sibuk, Ryan memastikan akan melihat prioritas permintaan yang harus diendorse terutama untuk klien dengan peringkat VIP. Bukan hanya itu, skala prioritas juga diberlakukan untuk pengguna yang sudah sering melakukan pemesanan melalui bantuan Diana.
 
“Sejauh ini inquiry yang masuk masih didominasi dari SMS, porsinya memang belum 50:50 antara pesan singkat dan aplikasi. Tapi kami fokus sebagai layanan berbasis chat karena memudahkan pengguna untuk melakukan pemesanan bahkan saat sedang rapat penting,” katanya.
 
Artikel Terkait:
 
Pemerintah dorong kemunculan 1000 startup pada 2020
 
Solusi smart living ala Modegi
 
Qlapa.com wadahi pengrajin lokal untuk ‘go global’
 
 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019