Hadapi persaingan, Blibli.com gandeng produk local

  • Strateginya menjual produk lokal serta beri kontribusi ekonomi
  • Harapkan insentif pemerintah bagi e-commerce dalam negeri
Hadapi persaingan, Blibli.com gandeng produk local

AGAR tetap bertahan di tengah gempuran persaingan yang kian ketat, dibutuhkan strategi bisnis dan inovasi yang tepat, tak terkecuali bagi para pelaku industri e-commerce Indonesia.
 
 Munculnya pemain-pemain baru, membuat para pelaku bisnis di industri ini saling berlomba dalam  mengembangkan situs belanja online dengan menampilkan diferensiasi produknya.
 
Sama halnya seperti yang dilakukan situs belanja online Blibli.com. Untuk memenangkan persaingan, menurut PT Global Digital Niaga chief executive officer Kusumo Martanto, Blibli.com memilih strategi dengan menggandeng sebanyak mungkin pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) lokal.
  
“Sebagai mal online buatan asli bangsa Indonesia, kami punya komitmen untuk memberdayakan Indonesia baik dari sisi penjual maupun pembeli, sehingga usaha kami dapat memberikan kontribusi yang signifikan kepada negeri ini,” ujarnya pada Digital News Asia (DNA) melalui surat elektronik.
 
Menurut Kusumo, UKM dan produk lokal Indonesia sangat potensial untuk maju dan memberikan pondasi yang kuat bagi perekonomian lokal. Sayangnya, pelaku UKM banyak yang mengalami kesulitan dan mencari cara untuk mengembangkan jalur distribusi dalam menjangkau lebih banyak pembeli.
 
Karena itulah, “Kehadiran e-commerce bisa menjangkau lebih luas calon pembeli potensial produk UKM, tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk promosi atau membangun jaringan toko.
 
“Blibli.com mengambil inisiatif menjalin kerjasama dengan Small and Medium Enterprises and Cooperatives (Smesco)  serta Markplus Inc untuk mengembangkan ‘UKM goes online’ dengan nama Galeri Indonesia WOW,” Kusumo menjelaskan.

Hadapi persaingan, Blibli.com gandeng produk local

Melalui kerjasama ini, Blibli.com, yang sahamnya dimiliki perusahaan rokok, Grup Djarum, bisa membantu mendistribusikan produk-produk UKM ke seluruh penjuru tanah air dengan fasilitas terpadu, termasuk layanan pergudangan, pengiriman gratis, tawaran cicilan melalui mitra perbankan, serta pelayanan konsumen 24 jam.
 
“Kami sudah memiliki lebih dari 1.000 UKM yang bergabung hingga saat ini,” ujarnya.
 
Lebih lanjut dia menambahkan, “Kami juga memiliki tim incubator yang secara khusus bertugas untuk mengakuisisi merchants serta melakukan mentoring seperti pelaksanaan workshop dan pengembangan potensial bisnis e-commerce untuk UKM.”
 
Strategi dengan menggandeng dan mengembangkan pelaku UKM ini, menurut Kusumo, dapat memberikan nilai yang kompetitif bagi Blibli.com dalam menghadapi semakin banyaknya kehadiran situs belanja daring asing yang ada di tanah air.
 
“Saat ini banyak pemain luar yang masuk tanpa memiliki entitas legal di tanah air untuk beroperasi. Blibli.com sebagai merek yang murni milik lokal  harus bisa menjadi pemimpin pasar, dengan mengedepankan produk-produk lokal karya pelaku UKM,” kata Kusumo, tanpa menyebutkan merek situs belanja daring asing yang dimaksud.
 
Ia mengakui di etalase situs belanja daring Blibli.com baru 20% dari total 350.000 produk yang merupakan produk UKM lokal. Ia menargetkan porsi ini dapat terus meningkat hingga 40% pada tahun mendatang.
 
“Tentunya kami akan sangat gembira untuk memajang dan mempromosikan produk-produk lokal, terutama jika ada lebih banyak lagi produk di bawah kategori high technology yang dibuat dan diproduksi di Indonesia,” tambahnya, sambil menyebut sejumlah  ponsel pintar produk lokal seperti Advan, Mito, Evercoss, dan IMO.
 
Potensi besar, pemain baru berdatangan
 
Perkembangan industri belanja dalam jaringan (daring) di Indonesia semakin menarik untuk ditelusuri, terutama saat muncul pemain baru yang mencoba untuk turut mencicipi manisnya potongan kue di industri yang potensial ini.
 
Potensi pasar di industri e-commerce memang cukup besar. Setidaknya, berdasarkan analisa AT Kearney dan CIMB Asean Research Institute (CARI) dalam laporan berjudul Lifting the Barriers to E-Commerce in Asean, disebutkan bahwa  potensi e-commerce di Asean sangat  besar, dilihat dari banyaknya populasi masyarakat di kawasan ini.

Hadapi persaingan, Blibli.com gandeng produk local

Dalam laporannya, AT Kearney dan CARI menyatakan potensi angka fantastis yang dapat diraup Indonesia dapat dicapai,  dengan catatan semakin banyak masyarakat Indonesia yang memiliki akses terhadap Internet, dan semakin banyak dari mereka yang menggunakan medium daring dalam melakukan berbagai aktifitas, termasuk berbelanja.
 
Hal inilah yang mendasari kemunculan pemain-pemain baru di industri belanja daring dalam setahun terakhir.
 
Pada 8 Desember 2014 lalu, operator telekomunikasi terbesar di Indonesia, Telkomsel, meluncurkan situs belanja dengan merek Blanja.com, menyusul langkah XL Axiata yang sudah memiliki situs belanja daring terlebih dahulu dengan nama Elevenia.
 
Dalam pernyataan resminya, Telkomsel mengakui langkah untuk masuk ke industri belanja daring diambil, karena melihat adanya kesempatan besar yang dapat diraup terutama  dengan memanfaatkan pembayaran melalui platform mobile-money miliknya, T-Cash.
 
Industri e-commerce di Indonesia kian semarak dengan bertambahnya pemain baru milik PT Solusi Ecommerce Global yang mengusung merek MatahariMall.com pada 8 September 2015 lalu.
 
Mendapatkan dukungan pembiayaan sebesar US$500 juta (Rp7,3 miliar) dari  raksasa properti Lippo Group, MatahariMall.com siap menjadi penantang baru di industri belanja daring tanah air.
 
“Semakin banyak pemain baru yang masuk, justru membuat persaingan semakin seru, asalkan pemain-pemain baru ini benar-benar masuk ke tanah air dengan serius, tidak cuma merusak harga,” ujar Kusumo.
 
Saat ini, menurut Kusumo, porsi e-commerce hanya sebesar 1% dari total pasar ritel di Indonesia. Karena itu, masih banyak potensi yang dapat dikembangkan oleh pelaku situs belanja daring Indonesia.
 
“Dengan potensi yang besar diikuti banyak pemain yang berkompetisi meraih pasar, kreatifitas justru akan semakin tumbuh di industri ini,” paparnya.
 
Ia menyatakan, merek Blibli.com yang telah berdiri sejak tahun 2011, tidak tertarik pada persaingan dan fenomena perang harga sebaliknya Blibli.com akan  fokus pada penyediaan layanan yang berkualitas untuk pelanggannya.
 
“Kita ingin memberikan pelayanan lengkap seperti Amazon.com, layanan yang dapat diandalkan oleh pelanggan, dengan produk yang terjamin keaslian dan kualitasnya,” tandas Kusumo.
 
Dibutuhkan payung regulasi yang tidak berbelit

Hadapi persaingan, Blibli.com gandeng produk local

Ramainya pelaku bisnis yang kini terjun dalam sektor situs belanja daring di Indonesia, ditambah keinginan mempercepat pencapaian nilai potensial membuat pemerintah menyusun peta jalan industri yang diberi nama ‘Roadmap E-Commerce Indonesia.’
 
Ditemui DNA usai menghadiri pembukaan Asia Internet Symposium (AIS) 2015 yang dilaksanakan di Jakarta, 7 September 2015 lalu, Rudiantara menyatakan kesiapan peluncuran peta jalan ini sudah tahap finalisasi.
 
“Penyusunan Roadmap e-commerce saat ini sudah mencapai 95 persen, tinggal tahap finalisasi di rapat-rapat Kementerian terkait, di mana ada delapan Kementerian yang terlibat dalam penyusunan roadmap ini,” ujarnya.
 
Berbagai lembaga pemerintahan yang terlibat, antara lain Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika.
 
Dengan adanya, peta jalan ini nantinya akan menghilangkan hambatan investasi pada sektor e-commerce dalam negeri, beberapa isu utama seperti akses pendanaan, perpajakan, perijinan, pendidikan dan sumber daya manusia, serta jalur distribusi.
 
“Saat ini terdapat lebih dari sekitar 146 butir aturan yang sedang ditinjau lebih lanjut. Tadinya, direncanakan bulan Agustus sudah selesai, tapi karena banyak pembahasan, kami targetkan bulan September ini sudah bisa diluncurkan,” tambah Rudiantara.
 
Bagi Kusumo (gambar), yang juga menjabat sebagai Dewan Pengawas Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), peraturan dan peta jalan jelas dibutuhkan untuk untuk mengatur alur industri, serta memberikan perlindungan pada konsumen.

Hadapi persaingan, Blibli.com gandeng produk local

“Peraturan dari pemerintah tetap harus ada sebagai payung regulasi untuk mendukung pemilik situs belanja daring, serta untuk melindungi konsumen.”
 
“Regulasi yang dibuat pemerintah harus menawarkan solusi nyata.  Harapan kami, regulasinya dibuat mudah, tidak berbelit, serta menerapkan persyaratan yang jelas,” papar Kusumo.
 
Selain regulasi yang jelas, Kusumo mengharapkan adanya dukungan pemerintah bagi situs-situs belanja daring yang diinisiasi oleh pebisnis lokal, seperti Blibli.com, yang menurutnya benar-benar hasil karya anak bangsa, karena pendanaannya juga berasal dari perusahaan Indonesia.
 
“Sejauh ini kami memang belum mengajukan permintaan insentif kepada pemerintah, namun kami mengharapkan dukungan perlindungan pemerintah terhadap e-commerce lokal,” tambahnya.
 
Bentuk dukungan itu, sambungnya, dapat berupa pengembangan bisnis pada pemain e-commerce lokal.
 
Menyinggung soal insentif bagi pemain lokal, jika diberikan pemerintah, insentif ini diharapkan dapat berupa tax holiday untuk investasi riset dan pengembangan.
 
“Jika insentif masih sulit diberikan oleh pemerintah, mungkin regulasi yang disiapkan pemerintah bisa mengatur para e-commerce asing agar mendirikan entitas legal di Indonesia,” jelasnya seraya mengatakan bahwa pelaku yang tidak berbadan hukum Indonesia, merugikan keberadaan pemain e-commerce yang sudah terlebih dahulu berdiri.
 
Artikel Terkait:
 
Disrupt on e-commerce: Big opportunity, intense competition
 
Rakuten enters Malaysian e-commerce market in a unique way
 
Huge opportunities for SMEs in cross-border e-commerce: PayPal
 
‘Flash sale’ andalan Lazada Indonesia
 
 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019