Tunjuk bos baru, Oracle fokus pada bisnis cloud

  • Sejumlah perusahaan kian sadar pentingnya berinvestasi di bidang IT
  • Komputasi awan bisa menekan biaya operasional perusahaan
Tunjuk bos baru, Oracle fokus pada bisnis cloud

 
MEMASUKI awal 2016 Oracle secara resmi mengumumkan kepemimpinan Erwin Sukiato (gambar di atas) sebagai country managing director Indonesia. Erwin bergabung sejak November 2015 menggantikan Uday Mathkar.
 
Bergabungnya Erwin di Oracle mengubah fokus perusahaan yang selama ini dikenal sebagai penyedia software dan hardware untuk kelas enterprise menjadi penyediaan layanan komputasi awan (cloud computing).
 
Meski diakui bukan teknologi baru, adopsi komputasi awan di kalangan korporasi di Indonesia menurut Erwin masih sedikit. Hal ini karena hingga kini, masih banyak perusahaan yang tetap menggunakan sistem yang tergolong tua dengan usia pemakaian mencapai 20 tahun.
 
Ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi penyedia layanan komputasi awan seperti Oracle. Kedepannya, adopsi komputasi awan dipastikan akan meningkat.karena mampu memberikan kemudahan dan efisiensi biaya operasional perusahaan.
 
Selain itu, menurutnya, sejumlah perusahaan masih perlu diedukasi mengenai pentingnya mengadopsi layanan cloud tersebut.
 
Berbeda dengan produk software dan hardware yang selama ini ia geluti, Erwin justru memiliki visi untuk lebih mendekatkan perusahaan ke konsumer dari berbagai segmen. Dengan cara ini Oracle bisa lebih memahami apa yang diinginkan pelanggannya.
 
“Sebagai penyedia layanan kami merasa perlu tahu dan dekat dengan apa yang diinginkan pelanggan seperti user experience dan lainnya. Terlebih kebutuhan perusahaan untuk solusi komputasi awan ini berbeda-beda,” katanya di sela diskusi media di Jakarta.
 
Cloud bisnis menjanjikan dan sesuai dengan karakter Indonesia
 
Erwin menyebut solusi komputasi awan sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia yang mengarah pada mobilitas. Terlebih di era big data, kebutuhan akses Internet dan penggunaan komputasi awan akan mengarah pada proses transformasi digital yang kini tengah terjadi di dunia.
 
“Transformasi digital disini bukan sekedar efisiensi biaya operasional perusahaan, tetapi juga mampu meningkatkan pengalaman pengguna. Hal itu karena yang diinginkan pelanggan saat ini bukan sekedar streaming pemasaran, tapi untuk meningkatkan user experience,” imbuhnya.
 
Terlebih kebiasaan sebagian besar masyarakat Indonesia yang kerap mengakses internet melalui perangkat mobile. Akses Internet cepat akan menjadi salah satu kebutuhan mendasar bagi korporasi dan end-user.
 
Solusi komputasi awan akan sangat menguntungkan bagi perusahaan di negara yang memiliki  kondisi geografis seperti Indonesia.
 
Selain itu, di era digital saat ini, perusahaan yang baru berdiri memiliki opsi untuk menyewa atau membeli layanan komputasi awan tanpa harus mengurusnya sendiri.
 
Erwin yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun di industri IT ini mengakui jika kebutuhan komputasi awan lebih masif, berbeda dengan solusi hardware dan software yang hanya menyasar kalangan korporasi.
 
Dengan menjamurnya belanja daring, ini menjadi peluang tersendiri bagi penyedia solusi komoputasi awan.
 
“Sejumlah e-commerce besar sudah memanfaatkan solusi komputasi awan secara menyeluruh, sementara untuk pemain kecil biasanya mereka hanya menggunakan beberapa fitur saja,” ucap Erwin.
 
Beberapa fitur yang dimaksud antara lain sistem front-end, back-end, keuangan, hingga sistem pergudangan barang masuk dan keluar.
 
Persaingan ketat
 
Tunjuk bos baru, Oracle fokus pada bisnis cloudMenanggapi anggapan bahwa Oracle sedikit terlambat dalam memperkenalkan solusi komputasi awan dibanding kompetitornya, Erwin yang pernah menjabat sebagai  general manager PT VeriFone Indonesia mengaku pihaknya memiliki pertimbangan tersendiri.
 
Seperti diketahui Microsoft, misalnya sudah memiliki solusi cloud  untuk kalangan korporasi terlebih dahulu dengan layanan Azure-nya.
 
“Memang sudah banyak yang lebih dahulu menyediakan layanan cloud, tapi kami berbeda karena solusi yang kami sebut Red Stack 100 persen buatan Oracle mulai dari software, hardware hingga aplikasi back-end dan front-end untuk operasional perusahaan,” ungkapnya.
 
Ia menyebut  sejumlah keunggulan Oracle yang tidak dimiliki kompetitornya, yakni 3 area layanan cloud: pertama yaitu Software-as-a-Service (SaaS), kedua, Platform-as-a-Service (PaaS), dan ketiga Infrastructure-as-a-Service (IaaS).

“Ketiga layanan ini penting untuk menyediakan pelanggan dengan lingkungan cloud yang lengkap yang mendukung kebutuhan mereka selama 10 hingga 20 tahun ke depan,” jelas lulusan Waikato Technical Institute, Selandia Baru ini.

Solusi cloud computing yang ditawarkan oleh Oracle ini juga didukung oleh kehadiran Oracle Fusion Middleware (FMW), atau dikenal sebagai Fusion Middleware. FMW ini berfungsi mengintegrasikan aplikasi dan sistem dari platform yang berbeda.
 
Ketersediaan layanan komputasi awan menurutnya  akan menjadi fokus bagi sejumlah chief information officer perusahaan besar pada 2016. Ke depan, menurutnya komputasi awan bukan lagi kebutuhan perusahaan tetapi sudah menjadi keharusan mendasar perusahaan yang ingin tumbuh besar.
 
Artikel Terkait:
 
Resmi berbadan hukum, PT Dell Indonesia siap ekspansi
 
Oracle gets aggressive about its cloud business
 
Cloud considerations shift away from IT: Oracle

 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019