Tunjuk bos baru, Nokia perkuat portofolionya

  • Bergabungnya Alcatel-Lucent melengkapi portofolio Nokia
  • Selain mendorong adopsi 4G, operator siap ujicoba 5G
Tunjuk bos baru, Nokia perkuat portofolionya

 
PASCA rampungnya proses akusisi Alcatel-Lucent senilai US$16,6 miliar (Rp 213 triliun) pada April 2015, Nokia secara resmi mengumumkan strategi bisnisnya di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
 
Mengawali tahun 2016, Nokia pun memboyong Alcatel-Lucent untuk bergabung di Nokia Network Indonesia. Di saat yang bersamaan pula, Nokia Indonesia menunjuk Robert Cattanach sebagai presiden direktur yang baru yang akan memimpin laju bisnis bisnis di Indonesia.
 
Di sela diskusi media di Jakarta, 2 Maret 2016, Robert mengungkapkan sejumlah strategi bisnis yang akan ditempuhnya  sepanjang tahun 2016, yaitu  menitikkan fokus pada pengembangan ekosistem bisnis.
 
Terlebih dengan bergabungnya Alcatel-Lucent, pria asal Australia ini memastikan fokus membesarkan bisnis tanpa khawatir akan terjadi kanibal.
 
“Kami akan tetap membesarkan bisnis seperti biasa, sejauh ini Alcatel-Lucent dominan di ranah fixed broadband dengan klien berasal dari perbankan, pemerintah dan enterprise. Sementara Nokia menyediakan solusi infrastruktur untuk operator mobile,” kata Robert.
 
Secara keseluruhan, Robert menyebut  bahwa langkah akuisisi yang telah dilakukan telah turut memengaruhi pendapatan Nokia pada 2015 hingga mencapai €26,6miliar.
 
Demi menunjukkan keseriusan di ranah jaringan, perusahaan yang berbasis di Esloo, Finlandia ini telah merogoh kocek sebesar €4,5 miliar untuk riset dan pengembangan.
 
Meski enggan merinci berapa besar jumlah investasi yang dikucurkan, Nokia memastikan akan menambah jumlah investasi khususnya untuk riset demi mendukung ekosistem bisnis.
 
“Sejauh ini riset dan pengembangan yang kami lakukan bukan hanya untuk teknologi LTE (Long-Term Evolution), tetapi juga untuk teknologi fixed broadband dan IP routing,” ucapnya.
 
Implementasi 4G tidak mematikan 2G dan 3G
 

Tunjuk bos baru, Nokia perkuat portofolionya

Nokia mengklaim telah menyediakan solusi dan infrastruktur pendukung untuk empat operator antara lain XL Axiata, Telkomsel, Indosat, dan Smartfren.
 
Meski mendorong maksimalisasi adopsi 4G, dukungan Nokia terhadap teknologi 3G dan 2G di Indonesia belum bisa dihentikan.
 
“Indonesia bukan satu-satunya negara yang masih menggunakan 2G dan 3G. Negara seperti India, Italia, Thailand, Vietnam, dan Filipina juga masih mengakomodir 2G, 3G dan 4G.
 
“Tidak bisa dipungkiri jika porsi adopsi 3G saat ini masih lebih besar dibanding 4G, ini merupakan peluang bagi penyedia infrastruktur seperti Nokia,” ucap Robert.
 
Faktor harga produk yang dibanderol kurang dari Rp4 juta disebut turut mempercepat adopsi LTE. Adopsi teknologi generasi keempat yang mampu menekan biaya operasional dengan kualitas yang lebih baik dan lebih efisien diprediksi terus meningkat kedepannya.
 
Head of MBB, Nokia Networks, Leo Darmawan mengakui jika saat ini pertumbuhan adopsi 4G masih mempertimbangkan kemunculan ekosistem pendukung seperti aplikasi dan data analitik.
 
“Kemunculan ekosistem pendukung 4G di Indonesia tidak bisa dipastikan kapan waktu idealnya, karena semua itu tidak muncul secara bersamaan, tetapi berproses,” kata Leo.
 
Kesuksesan implementasi 4G di Indonesia disebut Leo akan turut memengaruhi ujicoba teknologi generasi kelima (5G).
 
Meski baru akan diterapkan di tahun 2020 di Jepang, kemunculan teknologi 5G disebut mampu menurunkan latensi antar perangkat hingga mendorong tumbuhnya industri pendukung.
 
Kesiapan menghadapi 5G
 
Meski baru saja memasuki babak baru di era teknologi 4G, Robert menyebut Indonesia secara perlahan menunjukkan kesiapan memasuki era 5G.
 
“Sebenarnya selama ini ada beberapa operator yang melakukan ujicoba skala kecil, namun saya melihat secara keseluruhan Indonesia siap untuk melakukan ujicoba 5G, paling cepat di tahun 2018,” pungkasnya.
 
Ia tidak menampik sebagai penyedia infrastruktur, mendorong operator untuk mengimplementasikan 5G karena mampu menekan biaya perawatan jaringan serta memberikan kualitas yang lebih baik bagi pelanggan.
 
Dengan melakukan beragam ujicoba skala kecil, Robert mengaku optimis jika tiga besar operator di Indonesia siap mengadopsi teknologi 5G.
 
Meski kerap terlambat, peran aktif operator dalam melakukan ujicoba jaringan menjadi bukti kesiapan dan dukungan untuk mengakomodir teknologi generasi kelima tersebut.
 
“Era 5G sebenarnya teknologi baru, bukan menggantikan tapi melengkapi teknologi 4G karena menghubungkan machine-to-machine (M2M). Mengenai kesiapan tentu bukan sekedar teknologinya, tetapi tergantung dari skala ekonomi masing-masing operator itu sendiri,” tutup Robert.
 
Artikel Terkait:
 
Nokia Networks shrinks an entire LTE network into a box
 
Why the Nokia, Alcatel-Lucent mega-merger is significant
 
Resmi berbadan hukum, PT Dell Indonesia siap ekspansi

 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019