IDC: Tahun 2016, transformasi digital perusahaan semakin nyata

  • Keputusan TI 60 persen lebih perusahaan Indonesia akan dipimpin oleh CEO
  • Belanja TI Indonesia tahun 2016 US$15,3 miliar, meningkat 8,3 % dari 2015
IDC: Tahun 2016, transformasi digital perusahaan semakin nyata

 
MIMPI untuk mengubah model bisnis perusahaan ke arah digital pada 2016, mungkin akan menjadi kenyataan. Pasalnya hampir seluruh CIO (chief information officer) dan departemen teknologi informasi (TI) perusahaan di Indonesia akan berjuang bersama mewujudkan hal tersebut.
 
Firma riset International Data Corporation (IDC) Indonesia dalam paparan IDC FutureScapes sudah memprediksi hal tersebut. Nantinya, transformasi digital menjadi kata kunci tren perusahaan di tahun depan, terutama dengan menyatunya strategi TI dan strategi bisnis secara keseluruhan.
 
IDC juga memprediksi lebih dari 60 persen CEO (chief executive officer) perusahaan di Indonesia akan terlibat dalam segala keputusan TI pada akhir 2016.
 
Bagi country manager IDC Indonesia Sudev Bangah, hal ini tentu saja sangat baik, mengingat adanya tantangan besar yang dihadapi untuk menyinkronkan strategi IT ke dalam strategi bisnis.
 
“Kesadaran akan pentingnya investasi atau pembelanjaan IT bagi perusahaan sudah ada. Hanya saja, saat tiba waktunya mengeluarkan uang tersebut, para CEO dan pimpinan lini bisnis menahan uangnya dengan alasan mengalokasikan pembelanjaan untuk sektor lain,” paparnya pada media di Jakarta, 17 Desember 2015.
 
Namun pada 2016 nanti semuanya akan berbeda. Sudev menjelaskan perusahaan mulai menyadari eratnya kaitan antara investasi TI dan keberlangsungan bisnis, sehingga investasi TI nantinya dipimpin langsung oleh pimpinan bisnis.
 
Inilah yang menjadi titik awal dari transformasi digital perusahaan. Transformasi digital akan dimulai dari transformasi kepemimpinan. Meski demikian, bukan berarti perjalanan bisnis menuju transformasi digital berjalan mulus.
 
Walaupun survey IDC Indonesia menyebutkan ada 68 persen CEO di tanah air yang mendukung transformasi digital, tetapi ada 83 persen di dalamnya masih sulit untuk menerima cara baru dalam operasional maupun bisnis secara keseluruhan.
 
“Mengubah sebuah kebiasaan lama adalah hal tersulit. Meski banyak karyawan yang sulit menerima cara baru, namun transformasi harus terus berjalan, tidak ada pilihan lain,” tambah Sudev.
 
Dari biaya-sentris ke konsumen-sentris
 
Seruan untuk bertransformasi ini tidak lepas dari menggeliatnya pertumbuhan perusahaan-perusahaan baru yang berbasis Internet.
 
Perusahaan rintisan (startup) yang bermunculan ini bisa mengancam tatanan bisnis tradisional karena sejak awal dibangun dengan fundamental digital.
 
“Perusahaan yang muncul di era internet ini meraih sukses dengan cepat karena menawarkan kenyamanan pada konsumen, hal yang sering dilupakan bisnis konvensional dan terlalu nyaman dengan cara lama berbisnis,” papar Sudev.
 
IDC memperkirakan di tahun 2016, akan ada 78 persen dari perusahaan Indonesia yang model bisnisnya terganggu oleh kehadiran perusahaan era Internet.
 
Oleh karenanya, salah satu bentuk transformasi yang perlu dilirik perusahaan adalah dengan cara melibatkan konsumen.
 
“Perusahaan di tahun depan harus menempatkan konsumen dalam posisi sentral, mendengarkan konsumen lebih baik dari berbagai jalur, serta menggunakan informasi untuk pemasaran yang lebih tertarget,” ujarnya.
 
Sudev menjelaskan, selama ini perusahaan Indonesia masih menempatkan biaya dan keuntungan dalam pengambilan keputusan. Jika terus-terusan tersandera oleh biaya dan keuntungan, maka persaingan akan sulit dimenangkan.
 
Pendekatan ke konsumen pun, jelasnya, harus dilakukan dengan transformasi omni-experience, artinya memanfaatkan segala jalur baik pertemuan formal, maupun sosial media untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh konsumen.
 
Semakin baik hubungan yang terjalin antara perusahaan dan klien maupun konsumennya, semakin baik juga produk atau solusi yang akan dihasilkan, yang akhirnya berbuah pada loyalitas.
 
UKM belum bisa datangkan bisnis
 
IDC: Tahun 2016, transformasi digital perusahaan semakin nyataSalah satu prediksi IDC di tahun 2016 adalah perusahaan harus kembali melihat sasaran pasar solusi, layanan maupun produknya. Jika perusahaan menyasar segmen usaha kecil dan menengah (UKM), IDC menyarankan untuk meninjau kembali strategi pangsa pasar itu.
 
“UKM di Indonesia sayangnya belum menjadi sebuah pasar, belum bisa mendatangkan bisnis bagi perusahaan, UKM di Indonesia justru membutuhkan bantuan dari perusahaan,” ujar Sudev (gambar).
 
Hal ini karena UKM-UKM di Indonesia mayoritas masih fokus dalam mencari aliran dana untuk keberlangsungan usahanya.
 
Ditanya kapan kiranya UKM Indonesia mampu menjadi pasar yang akan dituju oleh suatu perusahaan, ia menjawab semuanya bergantung pada pemerintah yang harus menyediakan sebuah landasan untuk menggerakkan ekonomi UKM.
 
“Ketika pemerintah Indonesia menyediakan landasan UKM, meninjau ulang definisi serta peran UKM dalam perekonomian, serta merealisasikan komitmen untuk mengembangkan UKM, barulah UKM bisa ditargetkan menjadi pasar potensial,” tandasnya.
 
Belanja TI Indonesia pada 2016 meningkat 8,3%
 
IDC melihat ada2016, Indonesia akan meningkatkan pembelanjaan TI-nya ke angka US$15,3 miliar (sekitar Rp214,4 triliun), atau sebesar 2,7 persen dari produk domestik bruto (PDB/GDP) negara. Itu berarti belanja TI Indonesia meningkat 8,3 persen dibandingkan 2015 yakni sebesar US$14,2 miliar (sekitar Rp199 triliun).
 
Meski meningkat angka ini masih jauh dari ideal, terutama jika visi Indonesia ingin menjadi negara yang ekonominya berbasis digital. “Belanja TI Indonesia yang masih dibawah 3 persen dari PDB ini tergolong salah satu yang terendah di kawasan Asia Pasifik,” kata dia.
 
Sudev melanjutkan, untuk dilirik sebagai negara dengan basis ekonomi digital, setidaknya belanja TI Indonesia harus berada di kisaran 5 persen dari PDB.
 
Tren belanja TI tahun mendatang masih seperti tahun-tahun sebelumnya, akan dipimpin oleh industri perbankan dan jasa finansial, serta industri media dan komunikasi dengan total belanja TI masing-masing US$1-1,2 miliar (Rp14-17 triliun) dan US$3,5-4 miliar (Rp49,3-56,3 triliun).
 
Selain dua industri tersebut, IDC Indonesia juga melihat kecenderungan industri ritel, jasa dan manufaktur mulai meningkatkan belanja TI-nya pada 2016 dengan total lebih dari US$1 miliar (Rp14 triliun).
 
Artikel Terkait:

M-commerce, payments, and IoT to boost mobile innovations in APAC
 
Forrester’s top tech predictions for APAC in 2015
 
 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019