Harbolnas, 140 e-commerce tawarkan diskon hingga 90%

  • Orang Indonesia suka belanja online pada hari Senin, Kamis, dan Sabtu
  • Hingga akhir 2015 omzet bisnis e-commerce menembus Rp 224,9 triliun
Harbolnas, 140 e-commerce tawarkan diskon hingga 90%
 
AJANG belanja online yang disebut dengan Hari Belanja Online Nasional  (Harbolnas) kembali digelar oleh para pelaku bisnis e-commerce.
 
Event tahunan yang sudah keempat kalinya ini akan berlangsung selama tiga hari,  yakni 10-12 Desember 2015 dengan melibatkan 140 e-commerce, meningkat bila dibandingkan tahun lalu yang hanya diikuti 78 e-commerce.
 
Berbeda dengan tahun sebelumnya pula, para pelaku e-commerce menawarkan diskon hingga 90 persen, dengan total nilai diskon sebesar Rp120 miliar.
 
SVP strategic marketing partnership Lazada Indonesia sekaligus ketua Harbolnas, Indra Yonathan mengatakan, setiap tahunnnya minat pengguna Internet untuk berbelanja daring selalu meningkat.
 
Selain itu, semakin banyak pula partisan yang bergabung memeriahkan perhelatan yang awalnya dikenal dengan nama 12.12 ini. Karena itulah, panitia memutuskan menyelenggarakan event ini selama tiga hari.
 
“Tahun-tahun sebelumnya memang hanya satu hari, kami menyelenggarakan acara ini. Tahun ini berbeda, karena selama tiga hari, acara ini digelar.
 
“Sebenarnya dari pihak internal khusunya kepanitiaan, masih banyak terdapat perdebatan. Tetapi, seiring dengan bertambahnya e-commerce yang bergabung,  kami ingin memberikan kesempatan kepada pemain UKM di Indonesia,” katanya saat acara konferensi media di Jakarta, 8 Desember 2015.
 
Setiap tahun pelaku e-commerce yang bergabung dalam perhelatan Harbolnas memang terus meningkat.
 
Awalnya, Harbolnas dislenggarakan pada 2012, diinisiasi oleh tujuh e-commerce. Tahun berikutnya, jumlah peserta Harbolnas meningkat menjadi 22 perusahaan dan pada 2014 jumlahnya meningkat menjadi mencapai 78 e-commerce.
 
Menurut Indra, target seluruh peserta e-commerce yang ikut serta pada tahun ini  bisa mencapai kenaikan traffic penjualan mencapai 10 kali lipat. Selain itu, juga mendapatkan revenue sebanyak 8 kali lipat.
 
Sayangnya, Indra menolak menyebutkan  berapa besar pemasukan e-commerce dari hari normal.
 
“Kami sudah belajar dari tahun sebelumnya, tahun ini kami berupaya meminimalisir kendala saat puncak transaksi mulai dari masalah server dan payment gateway down,” terang Indra.
 
Penetrasi ponsel pintar tingkatkan transaksi daring
 
Harbolnas, 140 e-commerce tawarkan diskon hingga 90%
Dari populasi Indonesia yang mencapai 250 juta, saat ini diketahui baru 75 juta masyarakat yang sudah memanfaatkan akses Internet. Dari jumlah tersebut, transaksi daring baru dimanfaatkan oleh 7 juta netizen.
 
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh McKinsey, seperti dipaparkan oleh country industry head Google Indonesia Hengky Prihatna, menunjukkan penetrasi pengguna Internet di kota besar dua tahun silam hanya sebesar 55 juta dan diprediksi akan mencapai 86 juta di tahun 2020.
 
Prediksi ini dipengaruhi salah satunya oleh meningkatnya penetrasi pengguna ponsel pintar.
 
“Diprediksi 43 persen dari pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia akan leapfrog dari perangkat mobile, sementara dari komputer hanya 15 persen dan tablet sebesar 3 persen,” kata Hengky.
 
Hengky menambahkan, sekitar 78 persen pengguna internet di perangkat mobile akan melakukan transaksi belanja daring. Sementara 84 persen lainnya kerap menggunakan untuk aktivitas sosial media dan 81 persen lainnya menelusuri beragam informasi.

Senada dengan hasil riset Google, Facebook juga mencatat bahwa orang Indonesia menjadikan perangkat mobile sebagai sarana favorit untuk berbelanja online.
 
Head retail & ecommerce Facebook South-East Asia Deepesh Trivedi menyebut, saat ini orang Indonesia lebih memilih belanja online lewat smartphone ketimbang menggunakan PC atau tablet. Orang Indonesia juga memiliki tiga hari favorit dalam seminggu untuk berbelanja online.
 
“Berdasarkan data yang telah kami survei, mereka (orang Indonesia) lebih suka berbelanja online pada hari Senin, Kamis, dan Sabtu,” ungkapnya.
 
Lanjut  Deepesh, tidak sedikit orang Indonesia yang kerap mencuri-curi waktu saat bekerja untuk melihat penawaran diskon di situs belanja online.
 
Pengaruh sosial media
 
Selain meningkatnya adopsi ponsel pintar, tren menjual produk melalui sosial media juga turut mempengaruhi percepatan transaksi belanja online.
 
Deepesh menyebut, ada lebih dari 61 persen pengguna Facebook terhubung dengan Page, yang merupakan marketplace bagi situs sosial media tersebut untuk berbelanja online.
 
“Di Facebook, 44 persen pembeli online di Indonesia kerap mencari informasi produk atau mendapatkan rekomendasi yang membuat mereka ingin membeli sampai kemudian melakukan pembelian.
 
“27 persen membeli berdasarkan informasi yang diperoleh, sementara 31 persen lainnya berdasarkan rekomendasi,” tuturnya.
 
Selain itu, Deepesh juga mengungkapkan beberapa kategori barang terpopuler yang sering dibeli orang secara online.
 
Fashion menjadi kategori terbanyak dengan angka 71,6 persen, lalu kategori produk kecantikan dengan angka 20 persen. Sementara gadget dengan angka 17,2 persen, disusul dengan kategori perjalanan dengan total 9,7 persen, dan terakhir ditutup dengan kategori buku dengan jumlah yang sama dengan kategori perjalanan.
 
Menurut catatan Google, festival belanja online seperti Harbolnas turut mempengaruhi pola dan traffic di mesin pencari. Pada musim festival belanja terutama Q4 (Oktober-Desember) dan saat menjelang Hari Raya Idul Fitri menjadi puncak traffic akses pencarian informasi oleh netizen.
 
Perusahaan teknologi tersebut melihat saat ini masyarakat sudah mulai beralih dari belanja secara konvensional di toko ke ranah daring.
 
“Data yang ada di Google traffic selama musim belanja online, Indonesia itu punya dua masa puncakPertama, saat season Lebaran. Kedua, mulai dari awal Oktober hingga Desember karena sudah banyak yang mulai cari hadiah,” ungkap Hengky.

Optimisme pemerintah
 
Harbolnas, 140 e-commerce tawarkan diskon hingga 90%
 
Meski pertumbuhan transaksi belanja online saat ini masih kurang dari 1 persen, namun pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengaku optimis industri ini akan terus tumbuh. Hingga akhir tahun 2015 diprediksi lalu lintas uang di bisnis e-commerce bisa menembus Rp224,9 triliun.
 
Mengacu pada data dari Bank Indonesia, direktur bina usaha perdagangan Kemendag Fetnayeti (gambar di atas) memaparkan sepanjang tahun 2014, transaksi belanja online hanya sebesar Rp34,9 triliun.
 
Meski mematok target tinggi, namun ia menyebut kontribusi retail online masih tertinggal jauh dibandingkan retail offline.
 
“Saat ini kontribusi retail online memang baru sekitar 0,7 persen. Dengan adanya festival belanja online ,diharapkan dalam dua hingga tiga tahun kedepan kontribusi transaksi online bisa tumbuh di atas 5 persen,” ucap Fetnayeti kepada DNA.
 
Ia mengatakan, ada beberapa faktor yang turut mendorong pertumbuhan transaksi online. Meningkatnya penetrasi pengguna Internet terus tumbuh dan tingkat kepercayaan konsumen terhadap belanja online merupakan sinyal yang bagus untuk pertumbuhan bisnis ini kedepannya.
 
Untuk mendukung pertumbuhan bisnis e-commerce, saat ini Kemendag tengah menyiapkan rencana regulasi terkait e-commerce.
 
Ada empat poin utama yang tengah dibahas lebih rinci, yakni perihal perdagangan terkait pelaku usahanya, barang yang diperjual belikan, pengiriman barang dan pembayaran.
 
“Sebetulnya poin pertama mengenai pelaku usahanya harus jelas karena ini paling penting untuk mendapatkan kepercayaan konsumen. Aturan berupa Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) ini akan berdampak positif bagi ekosistem itu sendiri,” katanya.
 
RPP e-commerce yang merupakan turunan dari UU Perdagangan No 7 tahun 2014 sejatinya akan rampung pada akhir tahun 2015. Namun hingga kini RPP masih molor penyelesaianya karena ada beberapa poin yang harus melihat kesesuaian dengan keinginan pelaku usaha.
 
“Sebetulnya draft RPP sudah siap untuk dikirim ke Kemenkumham, tapi belum bisa dirilis tahun ini. Rencananya di kuartal pertama atau paling telat sebelum April 2016, RPP ini akan rampung dan siap digunakan untuk mengawal perkembangan industri e-commerce,” ucapnya.
 
Artikel Terkait:
 
Ritel offline di Indonesia akan kalah pamor dengan portal belanja daring
 
Baidu rangkul startup lokal untuk perbesar pasar e-commerce

Menuju industri ecommerce Indonesia
 
Logistik dan pembayaran pendukung ecommerce yang kerap terlupakan

 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 
 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019