150 juta orang Indonesia masih belum dapat akses Internet

  • Sebelum ada e-commerce banyak orang Indonesia mengenal Internet dari Facebook
  • Konten lokal berbahasa lokal dan harga terjangkau bisa menarik minat masyarakat
150 juta orang Indonesia masih belum dapat akses Internet

To read a slightly different version of this story in English, click here.

GAGASAN untuk menghubungkan sebanyak-banyaknya orang dengan Internet bergaung kencang pada acara puncak ajang Indosat IDByte 2015 yang diadakan di Jakarta, 2 Oktober.
 
Bisa dimaklumi, sebab semakin banyak kehidupan masyarakat yang bergantung dengan Internet, akan membuka peluang untuk berkembang, bahkan dapat meraup manfaat ekonomi secara global.
 
“Sebanyak 2,5 miliar orang di dunia sudah terhubung dengan Internet, namun sayangnya masih ada 150 juta orang di Indonesia yang tidak memiliki konektivitas data sama sekali,” kata vice president of Business Development Facebook, John Lagerling dalam presentasinya.
 
Menurut John, tugas utama yang diemban oleh seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah maupun swasta, adalah bagaimana menghubungkan sebanyak mungkin orang dengan Internet, sebagaimana visi pendiri Facebook, Mark Zuckerberg yang ingin membuka Internet selebar-lebarnya kepada setiap penduduk dunia.
 
Tak berhenti di situ saja, tugas selanjutnya adalah mengenalkan manfaat Internet untuk membangun perekonomian masyarakat, dan mengajak masyarakat untuk menyadari potensi besar yang ditawarkan dengan terhubungnya mereka ke Internet yakni perdagangan dalam skala global.
 
“Sebelum ada e-commerce, banyak masyarakat Indonesia mengenal internet melalui Facebook, banyak juga dari mereka yang mulai berjualan dengan platform Facebook,” katanya saat memberikan contoh pada kasus Batik Kultur, sebuah batik lokal asal Semarang yang diinisiasi oleh wanita muda Dea Valencia.

150 juta orang Indonesia masih belum dapat akses Internet

Sang pemilik sekaligus desainer Batik Kultur masih berusia 17 tahun kala dia mencoba peruntungan menjual batik karyanya melalui Facebook, beberapa waktu silam.
 
Hasilnya pun luar biasa. Saat ini Batik Kultur sudah mendunia dengan 7.000 lebih konsumen yang tersebar tak hanya di Indonesia, tetapi juga sampai ke Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Hong Kong, Norwegia, dan Belanda.
 
Bukan hanya Batik Kultur saja, ada juga merek sepatu pria asli Bandung, Brodo, dan perusahaan besar SaleStock yang menggunakan Facebook sebagai   langkah awal menapaki rantai perdagangan global.
 
150 juta orang Indonesia masih belum dapat akses Internet“Semua ini mungkin terjadi karena ada konektivitas, karena itu kita harus terkoneksi, harus memiliki akses pada konektivitas internet, peluangnya sangat besar,” tambah John (gambar).
 
John menjelaskan, komitmen Facebook untuk menghubungkan semakin banyak masyarakat pada internet ditunjukkan dengan inisiatif konektivitas dengan situs internet.org.
 
Meski layanan aplikasi gratis besutan internet.org baru dapat dinikmati oleh pelanggan Indosat, namun ke depannya Facebook akan menyediakan lebih banyak layanan gratis dengan kerjasama operator.
 
“Upaya menghubungkan masyarakat tidak hanya dilakukan oleh Facebook saja. Tetapi semua operator telekomunikasi, berbagai vendor dan penyedia jasa, harus bersama-sama menyukseskan visi ini.
 
“Karena menghubungkan  lebih banyak masyarakat merupakan tanggung jawab bersama,” kata John.
  
Tiga tantangan konektivitas

150 juta orang Indonesia masih belum dapat akses Internet

Meski berbagai upaya terus dilakukan untuk menghubungkan masyarakat dengan Internet, menurut John ada tiga tantangan utama yang menghambat percepatan konektifitas di berbagai negara, termasuk Indonesia.
 
Yang pertama menjadi tantangan adalah Infrastruktur. Jika saat ini perusahaan dan negara memikirkan cara terbaik untuk membangun konektivitas dengan infrastruktur berupa instalasi fiber, maka hal ini tidak akan cukup.
 
Selain itu, instalasi fiber menelan biaya yang cukup besar serta jangkauan yang tidak terlalu luas. Perusahaan serta negara perlu memikirkan cara yang paling hemat untuk memasang infrastruktur yang mumpuni dan tidak membebankan biaya besar pada penggunanya.
 
Sesungguhnya ada banyak teknologi canggih yang bisa digunakan untuk menjangkau konektivitas yang lebih besar dengan biaya efisien. Beberapa yang digarisbawahi John adalah laser, satelit dan solar power drones.
 
Teknologi laser satellite saat ini mampu mengatasi masalah biaya dan jangkauan. Selain itu, teknologi ini juga mampu bertahan dalam waktu yang lama.
 
Saat ini, Facebook dalam Connectivity Lab-nya sedang membangun sebuah sistem komunikasi berbasis laser, menggunakan drones, dan satelit yang dapat mengarahkan dan mengirimkan data dari angkasa kepada masyarakat.
 
John lalu mendemostrasikan sebuah teknologi yang telah diluncurkan oleh Facebook pada bulan Juli lalu, bernama Aquila yang berarti elang. Aquila adalah sebuah drone yang berukuran sama dengan sayap pesawat jenis Boeing 737, namun beratnya hanya seperti mobil saja.

150 juta orang Indonesia masih belum dapat akses Internet

Teknologi Aquila ini diharapkan dapat terbang selama tiga hingga empat bulan pada ketinggian 60.000 hingga 90.000 kaki, atau berada di atas ketinggian pesawat komersil yang biasanya terbang di ketinggian 30.000 hingga 40.000 kaki.
 
Dengan ketinggian ini, maka jangkauan Internet yang diberikan juga akan lebih besar mencakup hingga 50 kilometer di bawahnya, dan akan mampu memberikan 10 gigabit data per detik, atau 10 kali lebih cepat dibandingkan kecepatan yang tersedia di pasar saat ini.
 
Perlu lebih banyak konten lokal
 
Tantangan kedua, menurut John, terletak pada relevansi. Dari studi internal yang dilakukan oleh Facebook, sebanyak 50 hingga 70 persen dari mereka yang bukan pengguna Internet di negara berkembang tidak pernah berpikir tentang Internet, mereka bahkan tidak tahu bahwa Internet itu ada.
 
Jika masyarakat tidak menyadari keberadaan Internet, lalu bagaimana bisa menarik mereka untuk menggunakan Internet, dan harus membayar untuk bisa terhubung dengan Internet.
 
Karena itulah, masyarakat perlu diberi pengertian tentang alas an di bali terhubungannya mereka dengan Internet.
 
John menegaskan bahwa harus ada semacam insentif yang diberikan untuk menarik masyarakat menggunakan Internet. Insentif ini harus diberikan dalam bentuk konten.
 
Harus ada konten yang relevan untuk masyarakat agar mereka mau mengakses Internet yang berbayar. Konten Internet tersebut harus tersedia dalam bahasa lokal yang dimengerti masyarakat.
 
Inilah kunci bagi pengembang, jika ingin mengambil manfaat dari satu masyarakat. Pengembang harus bisa menciptakan konten yang memiliki relevansi dan hubungan erat dengan masyarakat tersebut, dan harus hadir  dalam bahasa lokal.
 
Saat ini masih banyak konten di Internet yang tidak mendukung bahasa lokal. Ia memberi contoh Wikipedia, yang tersedia dalam 52 bahasa. Jika ingin merangkul seluruh masyarakat yang ada, setidaknya 80 persen dari seluruh dunia, konten yang ada harus tersedia dalam 92 bahasa lokal.
 
Biaya koneksi harus terjangkau
 
Tantangan selanjutnya bagi penyedia layanan jasa telekomunikasi adalah bagaimana  menentukan harga konektivitas yang semakin terjangkau oleh masyarakat.
 
Ini tentu erat berhubungannya dengan infrastruktur, karena jika biaya yang dikeluarkan untuk infrastruktur besar, maka harga dari konektivitas juga akan semakin mahal. Dan masyarakat pengguna jasa Internet yang harus menanggung harga mahal tersebut.
 
Berdasarkan data yang dihimpun Facebook 34 persen masyarakat di dunia hidup hanya dengan US$2 (Rp29 ribu) per hari. Karena itu, menurut John, harga yang diberikan untuk bisa terkoneksi dengan internet seharusnya tergantung dengan masing-masing pasar yang disasar.
 
Ia menambahkan, saat ini hanya 34 persen saja dari total pengguna Internet yang mampu membeli akses data sebesar 500MB per bulannya. Jika kuota dan kecepatan semakin kecil atau sekitar 250MB per bulan, maka akan semakin banyak masyarakat yang mampu membayarnya, atau sekitar 50 persen dari pengguna Internet.
 
Dengan harga yang lebih murah kuota dan kecepatan yang lebih sedikit yakni 100 MB per bulan, akan mampu diakses oleh 80 persen pengguna Internet.
 
Itu artinya, tandas John, hanya segelintir masyarakat yang mampu membayar akses Internet yang lebih besar dan lebih cepat. Hal ini perlu dipikirkan bersama-sama.
 
Pentingnya menghubungkan masyarakat dengan Internet, maka harus didukung dengan layanan dan harga konektivitas Internet. Karena hal  tersebut sangat berkaitan.
 
Semakin banyak masyarakat yang ingin dihubungkan ke Internet, harusnya semakin terjangkau juga harga dari paket Internet yang disediakan.
 
Artikel Terkait:
 
Facebook’s ‘Internet for all’ – Asean challenges
 
Ooredoo’s Indosat and Facebook launch Internet.org in Indonesia

Dorong pertumbuhan pengguna Internet, Indonesia percepat dukungan infrastruktur
 
Emerging markets report fundamental life changes from connectivity
 
 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019