Dihadang fintech, kreativitas inovasi industri perbankan diuji

  • Inovasi industri perbankan belum cukup agresif menghadapi solusi FinTech
  • Perlu mengubah paradigma dan strategi, fokus pada e-money, berpikir layaknya startup
Dihadang fintech, kreativitas inovasi industri perbankan diuji
DIGITALISASI saat ini terjadi hampir di seluruh sektor bisnis, tak terkecuali pada sektor layanan keuangan atau perbankan.
 
Selama ini, kemudahan dan kenyamanan menjadi kunci utama yang dijual, tetapi kini, perbankan dipaksa untuk melihat kembali apakah inovasi yang dilakukan sudah cukup untuk membawanya bertahan di tengah menjamurnya solusi teknologi keuangan atau FinTech.
 
Menurut Research Director IDC Financial Insights Asia Pacific, Michael Araneta dalam forum Financial Service Summit Indonesia 2015 (FSSID) di Jakarta, 22 September lalu, dengan segala kemajuan teknologi yang ada di dunia saat ini, inovasi yang dilakukan industri layanan keuangan masih belum cukup.
 
Tantangan bagi industri layanan keuangan, termasuk perbankan, lanjut Michael adalah kenyataan bahwa masa depan dunia akan dipenuhi dengan gebrakan-gebrakan digital. Indonesia pun tak luput dari gebrakan itu.
 
“Para penggebrak digital seperti Uber, GrabTaxi, Alibaba, Rakuten, akan terus berdatangan dan menantang cara lama industri perbankan dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan,” kata dia.
 
Bukan itu saja, sambung Michael, para penggebrak digital ini bahkan akan menantang cara industri konvensional dalam mengatur sumber daya manusia. “Akan ada gaya kepemimpinan dan hubungan konsumen yang baru,” ujarnya.  
 
Inilah mengapa dalam forum FSSID 2015, IDC Financial Insight kembali menegaskan pentingnya perbankan terutama di Indonesia untuk berinovasi menggunakan layanan internet dan teknologi informasi (TI), serta meningkatkan belanja TI-nya.  Dibandingkan dengan bank-bank lain di kawasan Asia Pasifik (diluar Jepang), belanja TI bank-bank di Indonesia masih tergolong dibawah rata-rata.
 
Dihadang fintech, kreativitas inovasi industri perbankan diuji“Jika rata-rata pertumbuhan belanja TI perbankan di Asia Pasifik adalah 7 persen dalam rentang waktu 2014 hingga 2016, pertumbuhan belanja TI perbankan Indonesia berada di bawah 6,9 persen,” tambah Michael (gambar) pada Digital News Asia (DNA) merujuk pada Singapura sebagai negara di kawasan yang memimpin inovasi dan tingginya belanja TI pada sektor perbankan.
 
Lambannya pertumbuhan belanja TI perbankan Indonesia ini, dinilai Michael, akibat lanskap ekonomi makro yang lemah, sehingga membatasi gerak perbankan dalam berinvestasi.
 
Selain itu, lambannya pertumbuhan juga disebabkan adanya proyek besar multi-tahunan yang terlewatkan oleh perbankan di Indonesia, seperti peningkatan sistem inti perbankan, dan peningkatan sistem jalur pembayaran.
 
“Saat bank di Indonesia melewatkan proyek ‘mendasar’ tersebut, IDC Financial Insights justru melihat bank-bank di Filipina dan Malaysia berinvestasi lebih besar dalam peningkatan sistem utama ini,” katanya.
 
Bagi Michael, fokus perbankan di Indonesia saat ini jelas terletak pada kemampuan untuk berinovasi lebih kreatif. Namun bank-bank Indonesia perlu menaruh perhatian khusus pada pembayaran, terutama bagaimana memastikan adanya transaksi perpindahan uang atau transfer dari populasi yang belum memiliki akun bank (unbanked population).
 
Bank-bank Indonesia masih memiliki ‘tugas rumah’ untuk membawa semakin banyak masyarakat mengenal sistem perbankan yang formal, serta berinovasi membangun sebuah sistem integrasi keuangan yang baik agar dapat memayungi segala bentuk transaksi keuangan yang ada di tanah air.
 
“Indonesia sekarang memiliki 22 ijin e-money, tapi beberapa di antara penyedia layanan e-money ini membangun landasan dan sarananya sendiri, tanpa melalui perbankan.”
 
“Landasan yang dibangun secara mandiri oleh beberapa penyedia layanan ini akan menimbulkan in-efisiensi yang besar. Kami menganjurkan tersedianya sebuah sistem yang terintegrasi dengan baik, sehingga seluruh pemain e-money di Indonesia bisa terhubung dan berperan di dalamnya,” ujar Michael.
 
Tak banyak perubahan, bank terancam ‘punah’
 
Dihadang fintech, kreativitas inovasi industri perbankan diujiAsal tahu saja, kegiatan perbankan sejak dahulu hingga sekarang masih belum banyak berubah. Pemandangan yang sama masih terlihat di kantor cabang, seperti antrian nasabah, petugas bank melayani nasabah, mengisi formulir manual, hingga mengantarkan uang manual.
 
“Bedanya mungkin sekarang kursi untuk menunggu antrian lebih nyaman, ada kopi atau makanan kecil yang disediakan, tapi inti proses perbankan masih sama,” kata EVP & Head of Digital Channel Business Commonwealth Bank Indonesia, Donny Prasetya (gambar) dalam acara yang sama. Dia melanjutkan, ini jelas memperlihatkan inovasi industri perbankan belum cukup untuk mengubah pola dan sistem perbankan sejak dulu kala.
 
Karena itulah, Donny pun menekankan, bahwa untuk memenangkan pertempuran, perbankan harus mampu menarik preferensi pelanggan dalam jangka waktu yang lama.
 
Untuk melakukan hal tersebut tidak cukup hanya menyediakan produk dan layanan yang lebih baik dari pesaing, tapi melakukan segala hal lebih baik 10 kali lipat dari apa yang biasanya dilakukan.
 
“Memang tidak semua bank terancam ‘punah’, tapi bukan rahasia jika industri tidak melakukan sesuatu, hanya beberapa bank besar saja yang mampu bertahan,” katanya. 
 
“Sekali lagi, digital bukan hanya sekedar teknologi, tapi lebih besar dari itu, digital juga menyangkut pengalaman dan mengubah pola pikir, dan inilah yang hal yang paling sulit untuk dilakukan,” tambah Donny.
 
Satu hal yang sering terlewatkan bagi pelaku industri perbankan adalah kesempatan untuk memanfaatkan data. Padahal, menurut Senior Executive Vice President of Transaction Banking Bank Mandiri, Rico Usthavia Frans, saat ini data adalah komoditas menarik yang menjadi rebutan, bak minyak dan emas di zaman kegemilangannya.
 
Sayangnya, industri perbankan malah duduk manis di atas tambang komoditas ini. “Dibandingkan industri telekomunikasi dan konsumen, perbankan adalah industri yang memiliki data paling banyak dan paling lengkap. Tetapi belum ada satu pun dari kita yang memanfaatkan ladang penuh potensi ini,” aku Rico.
 
Jika perbankan mampu memanfaatkan segala data yang dihimpun dari nasabahnya, maka akan mampu memberikan layanan dan produk yang lebih personal dan sesuai keinginan nasabahnya.
 
Di sinilah tambang emas berikutnya bagi industri perbankan. “Manfaatkan data, hadirkan produk dan layanan yang berkualitas dan personal, maka bank akan tetap relevan dan mampu bersaing dengan pundi keuntungan yang potensial,” katanya.
 
Kompetisi semakin ketat, kantor cabang tak lagi relevan
Dihadang fintech, kreativitas inovasi industri perbankan diuji
Paradigma baru harus mulai ditafsirkan menjadi kebijakan strategis. Salah satunya, menurut Donny, adalah pandangan terhadap kompetiau persaiangan.
 
Jika selama ini bank selalu berkompetisi satu sama lain, maka saat ini kompetisi yang dihadapi justru datang dari para perintis teknologi keuangan atau yang disebut FinTech (financial technology), dan para operator telekomunikasi yang menawarkan layanan uang dan transaksi elektronik.
 
“Ini membuktikan tak ada industri yang kebal dan bisa bertahan dengan cara lama. Industri perbankan sudah ada 700 tahun lamanya, bahkan memiliki regulator yang seharusnya ‘melindungi’ industri ini dari gebrakan teknologi, tapi tetap saja, semakin lama gemerlap industrinya semakin tenggelam,” ujar Donny.
 
Apa yang dihadapi industri perbankan saat ini, hampir mirip dengan apa yang dialami industri telekomunikasi saat menghadapi gebrakan digital layanan over-the-top (OTT).
 
Terdesak oleh fenomena dan menjamurnya OTT yang mampu memberikan kemudahan bagi konsumen, dengan resiko kehilangan pundi keuntungan, akhirnya para operator telekomunikasi ‘dipaksa’ untuk berinovasi, salah satunya di sektor mobile money.
 
Paradigma lain yang perlu dipikirkan kembali adalah jalur utama atau touch-point utama industri perbankan. Jika selama ini bank masih berpikir bahwa jalur utama yang menghubungkannya dengan nasabah adalah kantor cabang, maka pemikiran ini perlu segera diubah.
 
Rico mengakui bahwa angka transaksi yang dilakukan nasabah Bank Mandiri di kantor cabang semakin menurun setiap tahunnya. Tahun 2015 sendiri, proporsi transaksi nasabah di kantor cabang hanya sebesar 6,6 persen dari total transaksi perbankan Bank Mandiri.
 
Mayoritas transaksi dilakukan melalui jalur e-channel. Transaksi menggunakan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) masih menjadi jalur utama, yakni 46,43 persen di tahun 2015.
 
Transaksi e-channel lainnya adalah melalui internet banking yang proporsinya sebesar 19,32 persen, dan melalui mobile banking sebesar 27,65 persen.
 
“Selama ini bank merasa jalur utama adalah kantor cabang. Padahal dari sisi nasabah, justru e-channel melalui internet banking dan mobile banking adalah pilihan utama, kantor cabang justru menjadi pilihan terakhir nasabah,” papar Rico.
 
Menyadari proporsi transaksi e-channel semakin meningkat, terutama bagi mobile banking, Bank Mandiri dalam setahun belakangan ini fokus meningkatkan pengalaman nasabah, dengan menyediakan aplikasi mobile yang ramah pengguna dan berfitur lengkap.
 
Selain itu Bank Mandiri juga melihat media sosial bukan hanya sebagai alat promosi dan pemasaran semata, melainkan sebagai jalur layanan yang mampu meningkatkan loyalitas pelanggan yang aktif menggunakan perangkat mobile.
 
“Kami dedikasikan tim khusus yang mendengarkan keluhan nasabah melalui media sosial. 24 jam dalam seminggu. Setiap ada keluhan, harus ditanggapi dalam waktu 2 sampai 3 menit,” ujar Rico.
 
Bank harus berpikir layaknya startup
Dihadang fintech, kreativitas inovasi industri perbankan diuji
Semakin ramainya pemain FinTech yang menawarkan solusi finansial di luar perbankan bukan tanpa alasan. FinTech tumbuh subur karena menawarkan inovasi dan gebrakan yang tidak terpikirkan oleh perbankan, dan memberikan kemudahan pada nasabah tanpa harus melalui birokrasi konvensional perbankan.
 
“Ambil contoh Go-Jek, mereka adalah perusahaan teknologi yang dalam setahun terakhir sudah meluncurkan Go-Food, Go-Box, Go-Clean, Go-Mart, tinggal menunggu waktu saja sebelum layanan finansial ‘Go-Pay’ muncul,” ujar Rico (gambar di atas) merujuk pada cepatnya kemampuan startup dalam berinovasi.
 
Dengan inovasi yang tak terbendung dari para pelaku startup, mau tidak mau untuk bertahan perbankan harus mampu berinovasi dengan cepat pula.
 
Rico pun menganjurkan, perbankan untuk fokus pada e-money atau e-cash dengan alasan moda keuangan elektronik ini begitu serba guna dan dapat digunakan oleh siapa saja, bahkan bagi yang belum familiar dengan perbankan.
 
“Inginnya dengan inovasi, perbankan bisa mengalahkan FinTech, tapi jika sulit, cobalah untuk berkolaborasi dan memanfaatkan inovasi FinTech,” kata dia.
“Langkah selanjutnya, jika keadaan memungkinkan, silahkan akuisisi inovasi dan solusi FinTech,” sambung Rico saat menjelaskan mengenai cara bank menghadapi kompetisi FinTech.
 
Inovasi merupakan hal mutlak yang sudah diketahui hampir semua pemain industri perbankan, namun permasalahan utama terletak pada kemauan untuk berinovasi dan kemampuan untuk cepat beradaptasi.
 
“Inovasi adalah hal yang harus diyakini oleh perbankan Indonesia, pola pikir kreatif serta kemampuan teknis juga cukup tersedia di Indonesia,
 
“Tapi kunci utama terletak pada kemauan perusahaan untuk bereksperimen, menyediakan cukup ruang untuk kegagalan yang tak terelakkan, serta dengan cepat mengganti strategi jika strateginya tidak berhasil,” pungkas Michael lebih lanjut.
 
Artikel Terkait:
 
What’s Next: Disruptors will not kill off banking incumbents

Banks don’t hold the future of banking: Akamai exec
 
Innovation gets more budget and mindshare in APAC banks: IDC
 
Innovation to determine winners and losers in financial sectors
 
 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019