Berrybenka lebih menyasar pasar domestik

  • Maksimalkan aplikasi untuk meningkatkan jumlah pemakai dan transkasi
  • Minat belanja daring di daerah akan didorong melalui toko offline  dan bazaar
Berrybenka lebih menyasar pasar domestik

 
PEMERINTAH dan pelaku e-commerce mengakui jika 2015 merupakan tahun penting bagi pertumbuhan tren belanja daring di kalangan masyarakat. Kemunculan sejumlah situs belanja yang mengakomodir berbagai kebutuhan pun kian diminati, termasuk untuk urusan penampilan.
 
Menariknya, mayoritas transaksi belanja online di Indonesia dilakukan melalui perangkat ponsel pintar.
 
Sebuat riset yang dilakukan oleh Google dan TNS Global Market Research yang melibatkan 1200 reseponden pada awal 2015 menunjukkan sekitar 67 persen dari 88,1 juta pengguna ponsel pintar di Indonesia diketahui kerap menggunakan smartphone sebagai alat untuk melakukan belanja daring.
 
PT Berrybenka (Berrybenka), e-commerce khusus fashion pun mengakui jika transaksi melalui perangkat mobile (situs dan aplikasi) meningkat  pada 2015 dibandingkan 2014.
 
Produk fashion masih mendominasi pemesanan.  Hingga saat ini 80 persen merupakan kebutuhan wanita yang didominasi produk pakaian, sementara sisanya merupakan kebutuhan pria yang didominasi sepatu dan jam tangan.
 
Managing director Berrybenka Danu Wicaksana menyebut dalam sehari ada 2000 hingga 2500 transaksi dalam sehari dari total 1,5 juta pelanggan. Sekitar 50 persen diantaranya dilakukan melalui perangkat komputer, sementara 30-35 persen melalui situs mobile dan 15-20 persen diantaranya melalui aplikasi ponsel.
 
“Melihat fenomena yang terjadi tahun lalu, maka untuk tahun 2016 salah satu fokus bisnis kami adalah pengguna ponsel pintar. Kami akan memaksimalkan aplikasi yang saat ini sudah diunduh hingga 280 ribu kali oleh pengguna Android dan iOS,” kata Danu di sela diskusi media di Jakarta, 20 Januari 2016.
 
Uniknya fenomena belanja daring melalui ponsel disebut oleh Danu merupakan peluang besar bagi pelaku bisnis, khususnya e-commerce karena semakin banyak orang yang tertarik untuk berbelanja.
 
“Saat ini memang pangsa pasar Berrybenka yang mayoritas dari merek lokal masih dominan, tetapi secara keseluruhan pertumbuhannya kalah cepat dan kalah besar dibandingkan Hijabenka (penyedia busana muslim),” katanya.
 
Untuk memaksimalkan pengalaman berbelanja di kedua situs fashion tersebut, Danu menyebut tahun lalu timnya sudah melakukan berbagai terobosan dalam memberikan layanan yang lebih baik.
 
Mulai dari mengoptimalkan layanan pelanggan hingga menyediakan jasa pengiriman barang yang dikelola sendiri maksimal 24 jam setelah pembeli melakukan pembayaran atau melalui sistem bayar di tempat.
 
“Selama ini, kami memang sudah bekerjasama dengan empat perusahaan logistik, tapi rasanya ada yang kurang dan beberapa kali ada komplain dari pengguna. Untuk itu sejak tahun lalu kami mulai menyediakan dua sepeda motor untuk mengantarkan pesanan khususnya di wilayah  Jakarta,” ungkapnya.
 
Lebih fokus garap potensi local
 

Berrybenka lebih menyasar pasar domestik

 
Pertumbuhan pengguna dan transaksi diakui memunculkan strategi ekspansi bisnis ke berbagai daerah. Menariknya, CEO Berrybenka Jason Lamuda menyebut saat ini timnya belum memiliki rencana dan ketertarikan untuk ekspansi ke luar negeri.
 
Menurutnya, saat ini peluang yang lebih besar justru ada di dalam negeri. Meski diakui jika sejauh ini sudah ada permintaan untuk memperluas cakupan ke beberapa negara di Asia.
 
“Memang ada permintaan untuk ekspansi ke Malaysia, Brunei Darussalam, dan Hong Kong, tetapi kami rasa saat ini momennya belum tepat. Pemesanan dari ketiga negara itu kebanyakan untuk produk yang dipasarkan di Hijabenka,” kata Jason.
 
Pemesanan yang diterima kebanyakan dari tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri. Menurutnya, mahalnya ongkos kirim menjadi salah satu pertimbangan Berrybenka belum memiliki rencana ekspansi ke luar negeri.
 
Pasar lokal yang masih ‘seksi’ terlebih untuk wilayah luar Jabodetabek akan menjadi fokus utama pengembangan bisnis Berrybenka. Terlebih saat ini ada lebih dari 90 persen produk yang dipasarkan merupakan buatan dalam negeri, dengan lebih dari 1000 pelaku UKM yang sudah bekerjasama.
 
Ekspansi terbesar hingga saat ini masih berasal dari luar Jakarta. Meningkatnya jumlah pengguna ponsel pintar di daerah menjadi salah satu alasan Berrybenka untuk ekspansi ke pasar lokal.
 
“Kami bukan tidak mau menyediakan barang dari luar negeri, salah satu tujuan kami memang mengirimkan pesanan secepatnya ke pemesan. Pemesan tidak mau barang pesanan mereka datang terlambat. Untuk itu kami lebih fokus ke produk lokal,” imbuh Jason.
 
Untuk memenuhi semua pesanan dari berbagai daerah, saat ini Berrybenka memiliki sebuah gudang berukuran 5000m2 yang berlokasi di Serpong.
 
Tempuh strategi O2O
 
Kabupaten dan kecamatan merupakan wilayah strategis untuk ekspansi Berrybenka. Sejumlah wilayah di Jawa, Sumatera dan Sulawesi pun tidak luput dari rencana eskpansi perusahaan.
 
“Beberapa daerah seperti Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, Makassar. Medan, Manado, dan Balikpapan sudah masuk dalam daftar rencana bisnis kami,” pungkas Jason.
 
Sadar dengan karakter yang berbeda dengan konsumen di Jakarta, Jason pun menyebut telah menyiapkan strategi online ke jalur offline (O2O).
 
“Rencananya kami akan membuka pop-up store selama 3-4 minggu di beberapa area dan mengikuti bazaar selama 2-3 hari. Permintaan produk Hijabenka tinggi di Balikpapan, sementara rencana buka toko sudah kami siapkan di Center Poin mall Medan,” lanjutnya.
 
Nantinya, produk-produk yang ditawarkan untuk pelanggan offline berasal dari merek Berrybenka. Dengan memberikan pengalaman berbelanja offline, Jason optimis nantinya masyarakat di daerah akan mulai terbiasa melakukan transaksi daring.
 
Selain menempuh jalur pemasaran offline, tahun ini Berrybenka juga berencana memudahkan masyarakat yang tidak memiliki rekening bank dengan melakukan pembayaran tunai di gerai Indomaret. Kedepannya, transaksi online bisa dilakukan dengan melakukan pembayaran di seluruh Indomaret.
 
Bukan itu saja, bagi masyarakat yang ingin berbelanja juga bisa melalui jalur personal yakni melalui  Line dan WhatsApp.
 
Artikel Terkait:
 
Muslimarket.com tawarkan konsep berbeda
 
Dengan e-commerce, liburan bukan lagi barang mewah
 
Dapat suntikan 23 Miliar, Snapcart siap ekspansi ke Filipina
 
Bulp, sarana baru menyampaikan keluhan dan aspirasi 
 
Qlapa.com wadahi pengrajin lokal untuk 'go global' 
 
 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019