Adopsi 5G di Indonesia harus dipersiapkan dengan matang

  • Uji coba teknologi 5G dilakukan saat Olimpiade Tokyo tahun 2020
  • Fokus kembangkan 4G karena belum mengetahui bisnis model 5G
Adopsi 5G di Indonesia harus dipersiapkan dengan matang

 
RENCANA pembangunan Pita Lebar Indonesia atau Indonesia Broadband Plan (IBP) terus bergulir dan ditargetkan rampung pada 2019.
 
Seiring dengan upaya mewujudkan visi IBP dan rampungnya penataan ulang (refarming) frekuensi 1800MHz pada 16 November lalu, justru memunculkan wacana baru. Yakni, teknologi komunikasi mobile generasi kelima (5G) digadang-gadang tak lama lagi akan segera muncul.
 
Berbeda dengan generasi sebelumnya, 5G tidak hanya ditujukan untuk perangkat mobile atau smartphone saja, tetapi juga menghubungkan semua perangkat dalam ekosistem Internet of Things (IoT) mulai dari mobil, kulkas, televisi dan perangkat yang ada di dunia.
 
President director PT ZTE Indonesia Mei Zhonghua menyebut, 5G memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya seperti, jumlah koneksi yang lebih besar, kapasitas 1.000 kali lebih besar dari 4G, throughput 10 kali lebih cepat, latensi yang lebih rendah, dan bisa mengakses 50 miliar koneksi.
 
Proses riset dan pengembangan 5G yang selama ini telah dilakukan di Tiongkok, Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang juga diklaim mampu menciptakan koneksi superior. Adopsi teknologi 5G di seluruh dunia pun diprediksi akan lebih cepat dibandingkan migrasi teknologi 2G ke 3G.
 
Perusahaan penyedia jaringan asal Tiongkok ini, memprediksi 5G akan siap dipakai pada 2020 nanti.
 
“Sama seperti ahli teknologi komunikasi lainnya, kami juga melihat momentum Olimpiade Tokyo pada 2020 nanti, akan menjadi saat yang tepat untuk mengoperasikan 5G,” kata Mei di sela konferensi media di Jakarta, 19 November 2015.
 
Senada dengan Mei, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengakui jika momen olimpiade merupakan kesempatan yang tepat untuk memperkenalkan teknologi komunikasi mobile terbaru di dunia.
 
Sebelumnya di ajang serupa juga digunakan untuk memperkenalkan kemunculan teknologi 3G.
 
“Dulu, saat memperkenalkan teknologi 3G di momen yang sama, ekosistemnya belum matang, saat ini kemunculan 5G diharapkan adopsinya lebih baik terutama saat masuk ke Indonesia,” kata Rudiantara.
 
Meski akan diperkenalkan pada 2020, Chief RA – begitu ia biasa disapa – memprediksi adopsi 5G di Indonesia akan lebih lambat.  Mengingat, selain kesiapan teknologi, dukungan perangkat dan aplikasi untuk 5G harus lebih siap.
 
Terlebih saat ini, fokus Indonesia masih pada pemanfaatan dan pemaksimalan 4G LTE.
 
Bisnis model dan ekosistem pendukung 5G
 

Adopsi 5G di Indonesia harus dipersiapkan dengan matang

 
Rudiantara (gambar di atas) menyebut, cepat atau lambatnya adopsi 5G belum bisa dipastikan karena terkait dengan kesiapan bisnis model yang akan dipakai.
 
Selain itu, pemerintah juga harus mengerti dulu seluk beluk dari jaringan generasi kelima itu sebelum diimplementasikan di tanah air.
 
“5G ini teknologi yang akan datang, dari sisi teknologi tidak bisa dihindari. Tapi, implementasi 5G misalnya untuk masyarakat akan seperti apa, berapa harganya, model bisnisnya seperti apa, itu harus dipahami dahulu,” ucap Rudiantara.
 
Rudiantara memastikan model bisnis, ekosistem, handset dan aplikasi untuk 5G belum diketahui.
 
“Saat ini, kita baru saja menggelar 4G dan akan matang pada 2017. Pakai 4G itu sudah bagus untuk video. Jadi, apa belum cukup hanya dengan memakai 4G,” pungkasnya.
 
Rudiantara pun berharap, ketersediaan teknologi komunikasi mampu memberikan akses ke 250 juta masyarakat Indonesia ke depannya. Saat ini, biaya langganan paket data dianggap masih mahal. Masyarakat  menghabiskan sedikitnya 26 persen dari total pengeluaran bulanan untuk membeli pulsa.
 
Padahal, menurut ketua Masyarakat Telematika (Mastel) Kristiono, idealnya kalau merujuk pada Perpres no.96/2014 pengeluaran masyarakat untuk mengakses komunikasi  seharusnya hanya 5 persen dari pengeluaran bulanan. Karena itu, targetnya pada 2019 hal ini bisa terwujud.
 
Ia berharap ketersediaan komunikasi generasi keempat dan kelima bisa menjangkau sedikitnya 40 persen dari populasi. Dengan memberikan layanan yang luas dan terjangkau, di targetkan, teknologi 4G dan 5G bisa memberikan pengaruh lebih besar, terutama pada bidang sosial dan ekonomi.
 
“Industri telematika harusnya bisa menggerakkan semua sektor. Agar bisa menekan biaya ke pelanggan, harusnya industri ini tidak dibebani banyak pajak dan non pajak oleh pemerintah pusat dan daerah.
 
“Bahkan kalau perlu,  pemerintah memberikan insentif sehingga biaya bisa efisien dan harga jual ke masyarakat lebih murah,” pungkasnya.
 
Indonesia berperan mengembangkan 5G
 
Sebelum mengimplementasikan 5G, industri telematika Indonesia harus menyiapkan banyak hal dalam 5 tahun ke depan. Bukan hanya pemerintah, keterlibatan masyarakat dan akademi diharapkan mampu menjadikan Indonesia berperan aktif mengembangkan teknologi 5G.
 
Terlebih perkembangan teknologi memungkinkan penggunanya menjadikan ponsel dipakai untuk segala kebutuhan. Hal ini menjadikan pengguna lebih peduli dengan spesifikasi perangkat yang dipakainya.
 
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika I Gusti Putu Surawirawan dipastikan perkembangan 5G juga harus mendapatkan dukungan dari banyak pihak.
 
“Teknologi 5G harus dilihat juga dari sisi regulasi dan penerapan teknologinya, karena ini terkait penggunaan data dalam jumlah yang sangat besar,” kata Putu.
 
Selain berperan aktif mengembangkan 5G, Menkominfo Rudiantara menyebut saat ini industri telematikan justru tengah menghadapi pekerjaan rumah yang lebih besar. Pekerjaan rumah yang dimaksud yakni penggunaan frekuensi 2100MHz.
 
Usai merampungkan penataan ulang frekuensi 1800MHz, pemerintah memastikan akan melakukan lelang frekuensi 2100MHz blok 11 dan 12 melalui sistem beauty contest (melihat pada yang dimiliki program operator untuk pelanggan).
 
Frekuensi 2,1GHz akan diperuntukkan untuk teknologi netral sehingga memungkinkan adopsi terbaru di masa depan, termasuk pemanfaatan 4G dan 5G.
 
“Setelah target implementasi 4G selesai pada 2017, aturannya harus dibuat efisien dan akses sebanyak mungkin. Proyek Palapa Ring ditargetkan selesai tahun 2018 sehingga konektivitas informasi bisa dirasakan sampai ke daerah,” ungkap Chief RA.
 
Artikel Terkait:
 
The world gears up for 5G: Ericsson Mobility Report
 
Nasib industri telekomunikasi di tengah anjloknya rupiah
 
Pasca ‘geber’ 4G, pemerintah bakal dorong pertumbuhan OTT local
 
Hadapi era 4G LTE, siapkah ekosistem industri telekomunikasi Tanah Air?

Giliran Jakarta, XL resmi pasarkan layanan 4G LTE
 
 
Untuk mengakses lebih banyak berita-berita teknologi serta informasi terkini, silahkan ikuti kami di 
TwitterLinkedIn or sukai laman kami di Facebook.
 

 
Keyword(s) :
 
Author Name :
 

By commenting below, you agree to abide by our ground rules.

Subscribe to SNAP
Download Digerati50 2018-2019 PDF

Digerati50 2018-2019

Get and download a digital copy of Digerati50 2018-2019